Selasa, 22 Februari 2011

Sudah Lama Aku Menunggunya dan Kau akan Ku tunggu Karena Kau adalah Harapanku…..



Aku mengenal kamu sepuluh tahun silam. Saat kita masih bersama di dusun yang mungil dan indah itu. Sayangnya pikiran   kita masih belum begitu dewasa untuk mengerti apa itu cinta dan kasih?? Aku selalu terharu ketika aku memandang wajah mulus nan elok saat-saat itu. Entah mengapa rasa keinginanku untuk medekatimu semakin mengada-ada, sayangnya walaupun aku menyimpan beribu rasa terhadap kau tetapi rasa itu tidak sempat aku sampaikan kepadanya.  Pada saat itu sempat kutitipkan salam saya untukmu melalui desiran angin lembut namun itu tak berhasil antah mengapa diriku tidak bisa mendeskripsikan semua itu namun yang kutahu mungkin saja ketika aku menitipkan salamku lewat angin lembut tetapi karena angin rebut datang dan membuang salam kasih saya itu entah kemana. . . . . . . . .

Beberapa tahun  setelah menjalani hidup bersama di dusun yang mungil itu, saya harus pergi merantau untuk melanjutkan pendidikan saya ke jenjang  SMP.  Disaat aku merantau terbayang selalu wajahnya, senyumannya, yang penuh kasih sayang. Walaupun aku tidak menjumpainya kurang lebih tiga tahun lamanya, namun wajahmu tak pernah hilang dari khayalku dan selalu terucap namanya ketika aku merindukannya. Kadang terasa gelisah ketika mengingat kembali wajahnya yang cantik. Aku benci rasa gelisah ini , karena ini memakan semua energi aku. mengambil seluruh rongga kebebasan sampai bagian yang paling terkecil . Seluruh pori mengutuk dan membuat nadi-nadi kecil ditubuhku menjerit menolak rasa gelisah yang makin menggerogoti setiap sendi, setiap inci kulit dan membuat jantungku berdetak lebih keras, dan akhirny otakku menolak untuk berpikir. Bles … blank … hitam … yang terlihat hanya lobang hitam besar didepan mataku tanpa cahaya setitikpun juga. Seakan-akan aku merasa hampa untuk menjalani hidup ini. But. . . . .apa boleh buat, Gunung yang menjulang tinggi, Dataran yang mebentang luas memisahkan aku dan kau. Sehingga belum sempat kudengar kabar angin tentang keberdaan dirimu walau kitabelum pernah jatuh cinta.
Seusai pendidikan di bangku SMP saya melangkah keluar untuk menuju ke tempat rantauan yang baru untuk melanjutkan pendidikan saya ke jenjang yang lebih tinggi (SMA). Saya tidak tahu bila kau juga berada disana dan di suatu ketika aku bertemu dengannya. Kaget dan terharu memandang wajahnya. Terdiam sejenak untuk mengingat kembali masa lalu, lalu itu saya pastikan bahwa itulah orang yang selalu kujadikan harapan saya kedepan. Disaat-saat itu pun jarang bertemu dengannya. Perasaanku terus tersimpan dalam lubuk hatiku yang paling dalam.

Karena terpaksa saya harus memetik bungan lain (Warna Merah) dari taman milik orang  yang lain, bunga yang aku petik itu pun tak lama kemudian layu dalam sekejap entah mengapa aku juga tidak tahu. Kemudian ku petik bunga yang berwara putih dan segar namun itu juga tidak betahan lama, dalam selang waktu yang lebih pendek bunga yang ku petik itu pun loyo dan akhirnya mati. Beberapa bulan kemudian bunga yang dulu kupetik yang warna merah  berseri lagi, aku pun gembira karena setelah melewati beberapa bulan bunga itu akhirnya bisa berseri kembali. Namun kegembiraan saya tidak berthan lama sebab kumbang jahat telah memetiknyadari tanganku dan telah memberikan bungannya serta aroma dari bunga itu kepada sahabat karibnya. Sialan…………. Walaupun demikian aku tetap semangat dan tetap pada posisi karena saya sadar bila bunga yang saya petik itu bukan di kebun milik orang saya dan milik pribadi saya. Sesampainya aku di tempat yang baru ini ternyata ada sih dia juga. . . . . asyikh. Dari sini saya tidak langsung mengungkapkan perasaan saya yang tersimpan beberapa tahun silam,  namun aku mulai mendekatinya, bersahabat dengan dia, dan dia jadi teman akrab saya dan juga teman curhat saya. Kok saya malah menjadi lebih bingung, saya ingin menyampaikan perasaan padanya sudah terlanjur menjadi sahabat karib. Saya ingin menyampaikan perasaan saya kepadanya namun aku merasa malu karena itu harus aku berhadapan dengan sahabatku sendiri, but . . . . . sudah aku cukup puas dengan apa yang ada, sudah terlambat katanya ketika aku menceritekan apa yang saya alami selama ini padanya dengan tujuan untuk menembaknya tapi meleset dan tampias juga sebab sudah ada yang memilikinya  dan di berkata pada saya dengan wajah yang aga kesa bahwa sudah terlambat…………yeah itu nasib saya jadi apa boleh buat, saya hanya bisa menguburkan perasaan saya sedalam mungkin agar bila waktumu tiba akan kuberikan pada dia hamu seorang diri, I Always weit you my best sister,,,,,,,,loph u..

For Len Migau"

Arnold Belau)*