Tampilkan postingan dengan label Papua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Papua. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 November 2012

Tabi, Bermula dari Perdagangan


Andy Tagihuma : Foto Ist
Nama Hollandia diresmikan Kapten KNIL FJP Sachse pada 7 Maret 1910 yang menandai pembangunan perumahan dan tempat kerja; pos di Pulau Debi kemudian ditutup dan dipindahkan ke Hollandia.

SEJAK berabad-abad yang lalu Tabi yang berada di bibir lautan Pasifik dengan pemandangan indah panorama alam yang berbukit-bukit mengundang para pelaut yang melewati utara Papua untuk singgah sejenak. Keindahan Tanah Tabi itu tercatat dalam penggalan catatan harian Pdt. Bink, “Semua musafir yang mengunjungi Teluk Yotefarau Menyatakan kagum akan keindahan alamnya…kesan yang sama telah saya dapatkan tahun yang lalu, ketika mengadakan kunjungan yang singkat. Dan kini, setelah memasuki teluk itu dan kemudian dari dekat berkenalan dengan bagian dalamnya, saya harus mengatakan, “Ya, benar Teluk Yotefarau dan terutama teluk bagian dalamnya, menyajikan pemandangan yang indah.”

Para pelaut Eropa yang melakukan ekspedisi ke Samudera Hindia, dan melewati Papua di antaranya, Jorge de Meneses pada 1524, Alvaro Saavedra 1528, Grijalva Y Alvarado 1537, Inigo Ortiz de Retes 1545. De Reteslah yang memberikan nana Nova Guinea. Namun khusus untuk Tanah Tabi, pelayar berkebangsaan Prancic Louis Antonie Baron de Bougainville tiba pada 1768.


“Aku” Tetap “Papua”


Andy Tagihuma, Foto : Ist
Gitar diraih; jemari menari di senar, nada merdu mengalun menyusupi telinga: “Aku Papua.”

Tanah Papua/tanah yang kaya/
surga kecil jatuh kebumi/
seluas tanah sebanyak batu/
adalah harta harapan/
Tanah Papua/ tanah leluhur/
di sana aku lahir/ bersama angin
bersama daun/
aku dibesarkan
Reff
Hitam kulit/ keriting rambut/
aku Papua/
biar nanti langit terbelah/
aku Papua

(Lagu “Aku Papua,” pencipta dan vokal: Franky Sahilatua)

SEBELUM “Aku Papua” populer, Franky Sahilatua, penggubah dan pelantun lagu balada sarat kritik sosial, sudah sering menyanyikannya. Nyanyian itu biasa dilantunkan selepas diskusi di komunitas-komunitas di kota-kota di Pulau Jawa.

Lagu ini diinspirasikan oleh diskusi Franky dengan teman-teman Papuanya, seperti Wilson Wanda dan Robby Rumbiak. selain oleh perjalanannya sendiri ke Papua.

Franky mengalegorikan Papua sebagai surga (paradise, Eden) bertumpukan masalah kronis. Penduduk negeri terpinggirkan, dan tersudutkan di tanah sendiri.


Senin, 21 November 2011

Adakah Pendidikan Gratis di Indonesia

Pendidikan gratis yang di rancangkan oleh pemerintah Indonesia dari pusat sampai dengan tingkat daerah kini hanya tinggal mimpi. Pendidikan gratis itu hanya mimpi siang para elit negara. Jika kita lihat di lapangan temapat berlangsungnya pendidikan yaitu sekolah-sekolah dan kampus di Indonesia, tidak ada sekolah yang gratis alias bebas biaya. Pendidikan di Indonesia 100% bukan pendidikan gratis. Karena disetip jenjang pendidikan baik Pendidikan Dasar, Menengah Pertama, Menengah Atas dan Perguruan Tinggi baik perguruan tinggi Negeri maupun Pertuguruan Tinggi Swasta di Indonesia yang gratis. Jika pendidikan gratis yang dicanangkan oleh pemerintah itu dapat dilaksanakan di Indonesia maka percaya atau tidak percaya tidak akan ada lagi anak-anak yang nganggur dan tidak akan ada lagi orang yang tidak bersekolah. Tetapi kita tahu sekarang bahwa pendidikan gratis yang dicanangakan itu kita bisa katakan bahwa janji bohong sehingga pemerintah yang selalu berbicara pendidikan gratis itu adalah Pembohong.

Sejauh ini tidak ada pendidikan yang gratis di Indonesia. Pendidikan grtis susah terwujud karena pemerintah di birokrasi pendidikan mengeluarkan pernyataan yang sebetulnya belum waktunya untuk dilaksanakan pendidikan gratis sehingga pendidikan gratis tidak pernah terwujud sampai saat ini. Dilain sisi dana pendidikan kurang memadai sehingga penidikan gratis sulit untuk terwujud. Kita mengetahui bahwa dari dana APBN itu ada sekitar 20 persen dialokasikan untuk pendidikan, namun dari dana itu sebagiannya digunakan untuk membayar gaji para tenaga pendidik (guru). Begitu juga dengan dana bantuan operasional sekolah (BOS), belum menjamin mewujudkan pendidikan gratis. Buktinya, masih ada pungutan terhadap anak didik yang dilakukan komite sekolah. Sebenarnya pendidikan merupakan sector terpenting yang harus diperhatiakan serius oleh pemerintah karena semakin berkualitas pednidikan semakin berkulitas juga derajat manusia di negara ini. Pendidikan harus diperhatikan dengan serius oleh pemerintah demi terwujudnya pendidikan gratis. Ini juga merupakan proses menuju bebasnya buta aksara di Indonesia.

Arnold Belau)*

Jumat, 20 Mei 2011

AJARAN BUDDHISME TENTANG DUKKHA DAN RELEVANSINYA DENGAN PENDERITAAN MASYARAKAT PAPUA.

Saya melihat dan mempelajari ajaran buddhisme tentang dukkha dan relevansinya dengan penderitaan masyarakat Papua. Ini menjadi sorotan untuk diselidiki. Alasan yang paling fundamental tergambar dan terlihat bahwa di sana terjadi penderitaan yang membawa suatu pengharapan. Pengharapan itu terjadi karena ada sesuatu yang dipandang sebagai tetap ada. Ada artinya sebuah jalan keluar dari penderitaan mencapai impian yaitu kebebasan. Kebebasan yang tercapai jika dan hanya jika sadar dari penderitan membawa habitus baru dalam kehidupan. Dalam tulisan saya ini tidak bermaksud menyajikan seluruh filsafat mengenai tema, namun sesuai dengan pemahaman Saya akan menguraikannya dari sudut pandang ajaran Buddhisme.

Buddhisme lahir dari ketidaksetujuan praktek ritual dalam weda yang pada awalnya berisi cara-cara praktis mencapai keselamatan. Kemudian ia berkembang menjadi satu sistem. Buddha mengajarkan bahwa kondisi realitas bersifat sementara dan berhubungan. Manusia menderita dalam hidup karena hasrat yang tak berkesudahan pada hal-hal sementara. Pembebasan dari penderitaan dilakukan dengan melatih pikiran dan tindakan. Dengan tindakan yang benar, hal yang baik akan datang.
Pandangan hidup Buddhisme bersifat pesimistis yaitu: hidup adalah penderitaan. Pesimisme itu mendorong disediakannya jalan untuk mengatasi penderitaan. Penderitaan itu terbagi menjadi tiga bagian, yang pertama penderitaan harian. Penderitan harian tampak dalam kesulitan. Kedua, Viparinama Duka adalah penderitan sebagai akibat ketidakstabilan dalam hidup. Perubahan dialami terus-menerus. Dunia, tidak stabil sementara tanpa identitas/diri. Yang ketiga, Samsara Duka adalah penderitan sebagai akibat dari kehidupan yang sudah ditentukan/ditakdirkan.

Buddha menawarkan hal yang paling penting adalah sikap moderat. Kemoderatan tampak dalam sikap mengayomi apa saja, dalam ajaran tentang kasederhanaan dalam menikmati sesuatu dan tiadanya perendahan diri yang ekstrim. Ada empat ajaran mulia yang ditawarkan Buddhisme yaitu: yang pertama Dukkha adalah penderitaan ada di mana-mana. Yang kedua Samudaya adalah sebab dari penderitaan adalah hasrat yang tidak pada tempatnya dan yang berakar dalam kemasabodohan. Yang ketiga adalah Nirodha adalah ada akhir dari penderitaan, yaitu Nirwana (kemunkinan pembebasan ada bagi setiap orang). Dan yang keempat Maggo adalah ada sebuah jalan keluar dari penderitaan yang dikenal sebagai delapan langkah mulia.

Berdasarkan ajaran Buddhisme tentang Dukkha terlihat pada realitas orang Papua dari tahun ke tahun mengalami penderitaan. Menurut Dumma Socrates Sofyan Yoman, penderitaan yang dialami masyarakat Papua adalah penjara ketakutan, kegelapan masa depan, diskriminasi, diintimidasi, diteror, dianiaya, dieksploitasi, budaya bisu dan takut yang disebabkan oleh kekejaman dari penjajahan Indonesia yang berwatak militeristik terhadap sumber daya alam yang buat mereka menderita. Masyarakat Papua menderita karena ingin bahwa segala sesuatu tetap ada, seperti sumber daya alam yang dieksploitasi oleh pemerintah Indonesia yang bekerja sama dengan investor asing seperti PT. Freeport Tembagapura. Investor asing mengeksploitasi sumber daya alam tanpa memperdulikan hak ulayat pemilik tanah. Kritik terhadap penderitaan yang dialami dari tahun ke tahun di atas tidak ada penyelesaian secara tuntas, menyeluruh dan manusiawi, sementara sumber daya alam dikuras dan dieksploitasi, sehingga generasi penerus Papua menuntut hak dan kebebasan yang paling tinggi yaitu kebahagian dari hasil sumber daya alam, tetapi yang ada hanyalah penderitaan.

Melihat realitas seperti di atas maka masyarakat Papua menuntut untuk keluar dari Dukkha dan meminta Maggo melalui aksi damai tetapi tidak diberi, sehingga Papua menjadi medan pertempuran yang besar. Pertempuran yang membawa masyarakat Papua menjadikan tanah sebagai peristirahatan terakhir. Masyarakat Papua yang mendiami tanah Papua hanya menjadi saksi bisu atas penderitaan dan mengingat sedikit dan menulis sedikit saja, tetapi dunia tidak akan lupa pada mereka yang wafat karena perjuangannya. Perjuangan itu tetap berlanjut dan dikenang terus. Kenangan untuk menyelesaikan pekerjaan mereka yang belum selesai yang telah mereka memulai dengan perjuangan dukkha yang dasyat, maka sekarang tugas generasi adalah menyelesaikan perjuangan mereka yang belum tuntas. Perjuangan Dukkha yang dialami masyarakat Papua di atas kekayan alam merupakan salah satu tuntutan pengharapan yang manusiawi, sebab ketidaksetujuan terhadap eksploitasi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia yang bekerja sama dengan investor asing. Penderitaan itu terus dialami dan diwariskan kepada generasi penerus sampai sekarang, maka reaksi dari generasi penerus sekarang adalah menuntut untuk meluruskan sejarah integerasi secara fundamental dan hakiki demi mencapai Nirvana.

Masyarakat Papua ingin hidup damai, tidak ada kerusuhan, tidak ada perang, tenang, tenteram hati, keadaan tidak bermusuhan, rukun sebagai dasar untuk membangun kesejatian hidup yang realitis di atas kekayan alamnya. Arthur Schopenhauer mengatakan bahwa: Realitas fundamental adalah kehendak. Karena kehendak akibatnya hidup dipenuhi perjuangan, konflik dan ketidakpuasan. Terinspirasi oleh Buddhisme ia mengatakan bahwa semua kehidupan adalah penderitaan yang hanya dapat diatasi dengan mengakhiri hasrat. Untuk mencapai Nirvana dalam ajaran Buddhisme perlu adanya upaya untuk menyuarakan pembebasan dari dukkha. Dukkha akan keluar, jika dan hanya jika penderitan dipandang sebagai Nirodha, maka perlu adanya Maggo sebagai jalan keluar dari penderitaan adalah hasrat. Hasratlah yang membawa pada kesadaran yang tinggi dari pemerintah Indonesia. Mengapa masyarakat Papua menuntut kebebasan dari Dukkha, karena mereka belum menemukan Maggo sebagai sebuah jalan keluar dari penderitaan yang dikenal sebagai delapan langkah mulia terhadap nasib masyarakat Papua kedepan.

Jika berdasarkan konsentrasi penuh pada ajaran Buddhisme tentang Maggo dan didukung terus oleh pemerintah Indonesia dalam mensejahterakan masyarakat Papua berarti tidak ada tuntutan untuk keluar dari integrasi dengan negara kesatuan republik Indonesia. Masyarakat Papua berpikir bahwa jika mencapai Maggo berarti tidak ada yang dipersoalkan terhadap integrasi masyarakat Papua dari negara kesatuan republik Indonesia. Fakta membuktikan bahwa Dukkha yang dialami masyarakat Papua membutuhkan ajaran Nirodha yaitu ada akhir dari penderitan yaitu Nirvana, maka untuk mencapai Nirvana perlu adanya kebenaran kesadaran sebagai jalan menuju Maggo. Realitas yang dialami harus dipandang sebagai awal dari perjuangan menuju kebaikkan. Kebaikan menghasilkan penyempurnaan pemisahan diri dari Dukkha, jika ada niat yang baik. Dukkha berarti pemisahan diri yang menghasilkan keseimbangan hubungan kekerabatan untuk membangun kebebasan. pembebasan artinya lepas dari penindasan terhadap masyarakat Papua menuju kualitas hidup yang tertinggi.

Semua penindasaan terhadap masyarakat Papua membutuhkan penyelesaian. Cara penyelesaiaannya membutuhkan keterbukaan diri dari pemerintah Indonesia. Kesadaran pencapaian Nirvana membutukan harmoni sebagai dasar perdamaian antara manusia dengan sesama untuk menciptakan toleransi. Toleransi dapat dimulai dengan membuka diri dan menghargai pandangan yang berbeda demi suatu kehidupan bersama dengan mengedepankan perikemanusian yang dapat dikembangkan melalui diri dalam relasi cinta, dan adil terhadap manusia sebagai sesama.

Dukkha pada masa kini tidak relevan untuk manusia dalam semua bidang kecuali dalam bidang-bidang tertentu seperti pendidikan. Yang dibutuhkan adalah bijaksana dalam segala hal. Jika bertindak bijaksana sesuai dengan akal budinya, maka kebahagian itu juga sama dengan keutamaan. Keutamaan dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia dengan cara berpikir dan bertindak secara rasional terhadap masyarakat Papua, dan mengajarkan Maggo sebagai jalan keluar dari Dukkha. Menurut Plato, manusia mengoptimalkan keutamaan adalah ketika manusia adil. Kejahatan terbesar adalah ketidakadilan (ketidakbenaran) saat manusia hidup jahat dan tidak tahu diri, dalam diri orang itu tidak ada harmoni. Ajaran Buddhisme dapat diterapkan dengan berkat ketenangan batin. Seandainya perasan batin tidak memberi ketidaktenangan tentang tindakan moral yang salah, juga bisa membawa dampak yang membuat masyarakat Papua menjadi canggung untuk mempertahankannya terhadap manipulasi kebodohan dan berjuang melawan dukkha.

Jadi, Penderitaan yang dialami masyarakat Papua adalah penjara ketakutan, kegelapan masa depan, diskriminasi, intimidasi, teror, aniaya, eksploitasi, budaya bisu dan takut yang disebabkan oleh kekejaman dari penjajahan Indonesia yang berwatak militeristik terhadap masyarakat Papua harus di hentikan. Yang diinginkan oleh masyarakat Papua adalah bebas dari penderitaan (dukkha) secara tuntas, menyeluruh dan manusiawi. Sehingga Sorotan yang disodorkan pun dapat memenuhi keinginan masyarakat Papua untuk hidup dengan bebas merdeka di dalan negara kesatuan republik Indonesia.

Merdeka merupakan salah satu keinginan insani yang amat mendasar. Pembebasan dari penderitan dilakukan dengan melatih pikiran dan tindakan berdasarkan aturan karma, sehingga masyarakat Papua ingin yang buat mereka mencapai nirvana adalah hidup damai, tidak ada kerusuhan, tidak ada perang, tenang, tenteram hati, keadaan tidak bermusuhan, rukun sebagai dasar untuk membangun kesejatian hidup yang realitis diatas kekayan alamnya. Masyarakat Papua membutuhkan adalah keterbukaan diri dari pemerintah Indonesia, demi membangun dan mengajarkan tentang kehidupan baik dengan kesadaran. Kesadaran yang keluar dari dukkha dangan mendepankan ajaran buddhisme tentang maggo sebagai delapan langkah mulia di terapkan dengan baik secara fundamental dan hakiki terhadap penderitaan yang di alami masyarakat Papua.

oleh : Krismas Bagau

Minggu, 27 Maret 2011

Pesta Miras


Tet. . . Tet. . . Tet… Telepon genggam saya bunyi. Bapak saya melalui telepon genggam saya, memanggil saya dari jayapura, bapak saya menyuruhku untrue datang bersama dengan kakak saya yang bernama Mathew (nama Samaran). Kemudian saya menelpon kakak saya Mathew lalu karena kakak saya juga tempat tinggalnya agak jauh dari tempat tinggal saya. Setelah menelpon kakak saya, saya pun langsung turun ke jalan raya untuk  menunggunya. 

Sesampainya saya di jalan raya, terlihat mobil Avanza berwarna abu-abu parkir di mata jalan masuk ke tempat tinggal saya. Saya menduga bahwa mobil yang di parkir itu mungkin oleh para pejabat atau orang-orang besar yang parkir sebab di tempat itu juga ada sebuah Rumah Makan (RM Surya). 

Dalam beberapa menit saya memperhatikan dengan baik mobil itu serta orang yang berada di dalam mobil itu. Namun dugaan saya salah, karena ternyata dalam mobil itu terdengar suara musik yang di putar dari dalam mobil itu. Ada beberapa orang tertawa sambil mengiukuti irama music yang mereka pasang dalam mobil itu. 

Tidak lama kemudian ada seorang pemuda yang usianya bila diperkirakan ± 28-30 Tahun menggocengi seorang gadis lalu datang dan berhenti dimana tempat yang sedang saya berdiri. Pemuda dan gadis yang tadi membawa sebuah botol yang didalamnya berisi bensin. Ternyata mereka parkir mobil itu karena kehabisan bahan bakar. Saat pemuda itu tiba, pintu itu terbuka. Lalu kemudian seorang wanita keluar dengan masih memakai baju dinas, artinya wanita itu bekerja di kantor.

Karena pintu mobilnya terbuka, saya mengarahkan padangan saya ke dalam mobil itu. Ternyata mobil itu dikendarai oleh seorang wanita juga. Wanita yang mengendarai mobil memegang rokok ditangan kirinya sambil menghisap rokok dan memegang HP yang bisa memutar video klip maupun lagu. Kemudian wanita itu memutarkan video klip. Lalu mereka tertawa-tawa di dalam mobil itu setelah menyaksikan tayangan yang ditayangkan dalam video klip itu. 

Tidak lama kemudian datanglah seorang pria yang berbadan kekar dan masih memakai baju dinas. Anehnya, setelah pria itu tiba wanita yang tadinya duduk di depan bersama sopir, buka pintu dan keluar untuk menemui pria itu, setelah ditemuinya ia langsung memeluk dan menciumnya. Mereka tidak sadar karena otak dan pikiran mereka dikuasai oleh alcohol. Mereka saling memeluk dan berciuman, seakan-akan dunia milik mereka berdua. 

Ow…….bisa juga yeah. Papua akan seperti apa jadinya. Seharusnya orang-orang yang sudha mengerti dan orang yang masuk dalam system pemerintahan itu memberikana contoh yang baik kepada masyarakat. Namun sebaliknya mala mereka yang merusak kehidupan.
Memalukan!! Sungguh memalukan. Masih dengan pakaiana dinas berpesta miras lalu melakukan hal-hal yang dinilai sangat menyimpang seperti berciuman dan berpelukan di tempat-tempat umum. 

Arnold Belau

Kamis, 03 Maret 2011

KULIT HITAM, RAMBUT KERITING AKU PAPUA"

Saya sebagai putra Papua melihat, mengalami dan merasakan kebijakan undang-undang di negeri Papua sangat amat disayangkan kebijakannya yang diturungkan dari pemerintah pusat terhadap masyarakat Papua. Mengapa hal ini sangat disayangkan? karena pemerintah Papua sedang distir oleh undang-undang biadap atau anjing pelacak pemerintah Indonesia dalam alti pemerintah pusat yang mengatur semua kebijakan. Hal ini, dengan tujuan dan maksusud mengexproitasi sumber daya alam dan sumber daya manusia atas nama NKRI yang tidak tahu menghargai ekstensi manusia Papua. Salah satu hal yang hal negatif yang menghancurkan tanah Papua adalah kebijakan otonomi khusus bagi propinsi Papua.

Otonomi yang berlangsung di tanah Pupua adalah otonomi yang di imprementasikan untuk pejabat-pejabat Papua saja, Yang notabenenya hidup diatas penderitan rakayat kecil. dan lebih para lagi mereka menari-nari di atas penderitan Orang Papua dengan cara menghambur-hambur uang rakyat kecil dengan berpoya-poya dengan dan hidup di hotel-hotel dengan urusan yang tidak jelas.

Kulit hitam rambut keritin aku papua melihat dan menganalisa Kelemahan undang-undang yang diterapkan di tanah Papua membawa kebodohan terhadap pejabat yang bermental santai. Untuk itu, semua roda pemerintahan ini seharusnya di atur baik. kalau tidak kembalikan kemerdekan kebebasan kami untuk mengatur atau menata masa depan kami sebab kami bukan berkulit putih atau berkulit jawanesia tetapi kami orang Papua adalah kulit hitam ramput keriting yang bisa mengatur diri sendiri dan tidak perlu diatur atau distir oleh kolonialisme dan militelisme Indonesia terhadap di seluruh tanah Papua.
Kehadiran pemerintah Indonesia dengan segala perangkat kekuatan hukum, TNI dan Polri yang sedang menduduki Tanah Papua dan menjajah orang asli Papua sebagai pemilik negeri dan tanah ini sejak 1 mei 1963 sampai saat ini. Pemerintah Indonesia selama ini tampil sebagai pemilik kebenaran, pahlawan, pelindung, penyelamat dan pengayom masyarakat. Sebenarnya, pemerintah Indonesia mempunyai agenda besar dan jangka panjang seperti kepentingan ekonomi, politik, dan keamanan dan pemusnahan etnis Melanesia secara sistematis dan struktural. Semua kejahatan dan ketidakadilan ini selalu dikemas atas nama pembangunann nasional dan keamanan nasional. Untuk membenarkan kekejaman dan kejahatan pemerintah Indonesia, orang asli Papua, pemilik negeri ini, diberikan stgma spratis, anggota OPM, dan pembuat makar yang nota benenya menggagu keamanan.

Aku datang supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahaan (yohanes 10:10). Yesus tampil sebagi salah satu contoh figur yang perlu ditiru dan diandalkan dalam penyelamatan umat manusia yang tidak bersuara dari kebodohan, penindasan, penganiayaan, pemenjarahan umat Tuhan yang tidak berdosa. Maka itu, perlu adanya perdamaian yang fundamental dan hakiki. Kemudian bagi generasi penerus negeri ini, perlu melihat sandiwara Undang-undang yang diterapkan di Papua nomor 21 tahun 2001 tentang otonomi Khusus bagi propinsi Papua yang sudah mati dan sudah dikuburkan itu sebagai salah satu contoh yang baik di analisa. Ketidakjelasan dalam pelaksanaan/imprementasi. Maka itu, pemerintah yang memegan otoritas kekuasan di negeri Papua perlu di tiru pembebasan tanah dan negeri ini dari figur di atas.

Dengan demikian, untuk suatu kehidupan yang baik dibutuhkan teladan dari para penguasa atau yang senior. Tetapi yang dibutuhkan adalah suatu sistem hukum yang keras. Penguasa atau pemimpin dapat dibuat baik dengan pendidikan tetapi yang lebih penting adalah sebuah sitem hukum yang tegas. Cara mengontrol kejahatan dan egoisme adalah dengan menghukum yang jahat dan menghadiahi yang baik. Di dalam sistem ini raja atau penguasa di tempatkan lebih rendah karena pejabat yang menawasi hukum dapat juga bertindak jahat dan egois.

Oleh: Ganewabega Domogaukiba Krismas Bagau

Senin, 07 Februari 2011

Stop Datangkan Transmigran Dari Luar Papua !!!


Sejak tahun 1964 yang pada saat itu pemerintah “Biadap” (Indonesia) telah menetapkan program transmigrasi untuk didatangkan ke papua dari luar papua seperti, jawa, sumatera, Kalimantan, dan sulaweisi, lebih banyak dari pulau jawa karena pulau jawa merupakan pulau yang paling padat penduduknya. 

Program itu dibentuk oleh pemerintah Indonesia untuk datangkan para transmigran ke bumi papua. Papua yang dulunya kaya dengan kekayaan alam, tanah yang subur, hutan rimaba yang banyak menyimpan kekayaan dan banyak banyak keunikan tersendiri, namun setelah didatangkannya para transmigran dari luar pulau jawa kini membawa dampak yang tidak terbayang dan sangat merugikan. Kehidupan yang dulunya alami tanpa kekurangan kini berubah menjadi kehidupan yang penuh dengan kesengsaraan. 

Dengan kedatangannya transmigran tersebut telah memberi dampak yang sangat buruk seperti kehilangan hak ulayat atas hutan yang ditebang habis tanpa ada pertimbangan yang matang, tanah yang dulunya subur kini telah berubah menjadi tanah yang tandus, dan tanah milik masayarakat banyak dikuasai oleh para transmigran dengan cara yang tidak wajar.

Kehidupan pada saat ini di bumi papua semuanya telah berubah menjadi serba salah dan penuh derita di atas tanahnya sendiri. Dengan masuknya transmigrasi di bumi papua telah membawa kehancuran bagi pulau papua dan orang pribumi papua asli. Contohnya adalah misalnya pemerintah membuat suatu program untrue membuat perkebunan yang luas dan berhektar-hektar kemudian sesudah selesai program itu di laksanakan tanah tersebut diperjualbelikan setelah program itu selesai, contoh yang paling kongkrit adalah seperti yang terjadi di kabupaten keerom, pemerintah membangun perusahaan kelapa sawit ratusan hektar lalu setelah program tersebut berakhir tanahnya diperjual belikan.

Dengan melihat kondisi seperti ini jangan kita tutup mata tetapi kita harus membuka mata dan mencari solusi yang terbaik untuk menyelamatkan dan membangun kembali kehidupan masyarakat adat. Hutan papua merupakan gudang segalah kehidupan sepertu hewan buruan, rotan kayu, buah-buahan dari alam, dan lain-lain, namun stelah ditebang habis dengan cara yang keji yang tidak memepertimbangkan akibat yang akan tibul dari perbuatan tangan manusia yang “jahat” itu. Walaupun tuuan utama pemerintah datangkan tramsmigrasi adalah untrue membuka isolasi daerah tetapi faktanya berkata lain dan akibatnya adalah rumpun Melanesia yang berada di muka bumi cenderawasih terancam punah. UU Otsus juga telah menetapkan agar tidak mendatangkan lagi ttrassmigran ke bumi papua, maka pemerintah dengan keras harus menentang isu transmigrasi untuk papua dalam bentuk apa pun dan kapan pun. 

Arnold Belau

Selasa, 01 Februari 2011

Budaya Kita Yang Sebenarnya Semakin Tidak Terlestari dan Semakin Hilang

Budaya adalah identitasku. Budaya merupakan identitas yang secara kodarti dimiliki oleh setiap manusia sejak tiap individu itu dilahirkan. Dimana identitas itu menunjukan identitas tiap pribadi. Dimana identitas itu meliputi unsure-unsur budaya. Budaya dimiliki oleh tiap-tiap orang yang mempercayai budaya itu sebagai identitasnya. Budaya itu beragam. Tiap suku memiliki budaya yang khas berbeda-beda. Budaya itu menjadi sesuatu yang sangat penting. Sebab dengan adanya budaya itu dengan mudah kita bisa mengetahui darimana ia berasal. Secara otomatis dengan melihat budaya itu kita bisa mengetahui budaya orang. 


unsur-unsur budaya itu meliputi, bahasa, pakaian adat, gaya hidup dan lain-lain. Maka dari itu budaya sangat penting dan perlu dipelajari serta diketahui oleh stiap orang. Sebak bila kita tidak mengetatuhi budaya kita yang sebenarnya maka seakan-akan kita seperti seseorang yang tidak memunyai identitas. Sehingga kita tidak akan mengetahui identitas kita yang sebenarnya. Kita pun tidak usa terpengaruh dengan budaya orang lain. Walaupun budaya kita sejelek apapun kita hsrus mencintai budaya kita, karena itulah budaya dan identitas yang sebenarnya. Dalam hal ini budaya itu merupakan sesuatu yang bersifat kodrati.

Pada zaman ini budaya semakin tidak terlalu serius diperhatiakan  dan dianggap sebagai Sesutu yang tidak berate pada hal budaya kita itu merupakan identitas. Dan bahkan pada zaman sekarang budaya semakin tidak jelas dan semakin campur baur. Contoh yang paling kongkrit yang kita bisa lihat dalam kehidupan sehari-hari adalah, gaya hidup dengan pirang rambut, pergi ke salon, minum bir (minuman beralkohol), makan pinang, mengubah warna kulit, membuat model rambut yang tidak asli (tarik, rebonding, dan membuat rambut gimbal).

Begitu pun gaya hidup yang semakin tidak sesuai dengan tuntutan adat dan istiadat. contohnya dance, kewa, dan acara-acara yang sering diadakan oleh para remaja dan kaum muda pada umumnya. Tidak beda jauh dengan gaya bahasa sehari-hari yang kita gunakan. Secara tidak sadar bahasa yang kita biasa gunakan dalam sehari-hari pun telah berubah, contohnya, nggak, nda, lho. gue, beta, dll. Semuanya itu bukan bahasa kita yang sebenarnya namun bahasa itu terpengaruh oleh sinetron karena semua bahasa itu adalah merupakan bahasa yang terpengaruh oleh sinetron. Dampak ini sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, sebab kebanyakan orang tua sering memutar film-film sinetraon tanpa memikirkan dampak akibat film yang ditontonkan itu, secara tidak sengaja dengan semakin banyak tontonkan film-film sinetron kepada anak-anak maka anak-anak yang menonton Film itu akan merekam semua adegan-adegan yang dimainkan dalam sinetron itu sebab otak anak kuat untuk merekan apa saja yang dilihat, dan didengar. Demikian pula dengan film-film smackdown.

Semua dampak itu akan berpengaruh terhadapa gaya hidup maka semua orang perlu menyadari apa yang dibuat dan dilakukan oleh setia orang. Apabila dampak itu terjadi maka pihat orang tua haru bertindak sebelum terjadi dampak yang lebih besar, dan sebelum terjadinya  pengaruh yang dipengaruhi oleh film-film yang ditonton oleh anak-anak itu maupun gaya hidup yang tidak wajar yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Walaupun berbagai pengaruh yang dan gaya hidup yang tidak wajar dalam kehidupan sehari-hari namun yang terpenting disini adalah bagaimana kita melestarikan dan menjaga budaya kita meskipun budaya modern itu merupakan budaya yang tidak baik, tetapi baik untuk ditiru makan silahkan saja ditiru namun kita harus sadar bahwa budaya kita yang aslilah yang patut kita jaga dan lestarikan bukan budaya orang lain yang harus kita lestarikan. Bila kita lestarikan dan menjaga budaya kita maka itu merupakan suatu kebanggaan tersendiri.  Oleh karena itu saya sarankan agar kita harus me jaga diri agar tidak terjerumus dalam dampak-damapak negative dan katakan tidak pada budaya yang dari luar, artinya budaya orang lain. Jaga budaya kita karena budaya merupakan identitas setiap orang, marilah kita bersama-sama menjaga kebudayaan kita agar tidak budaya kita tidak hilang punah.

Arnold Belau)*