Tampilkan postingan dengan label Diarryku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diarryku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Desember 2013

Mengenang Satu Tahun Kepergianmu, Ananias (I)

Ilustrasi Kecelakaan. Foto; Its
Tulisan ini saya buat untuk mengenang satu tahun kepergian kakak terkasih, Ananias Belau yang meninggal karena kecelakaan lalulintas pada tanggal 26 November 2012. 

Hari ini adalah hari selasa. Tanggal dua puluh enam. Bulang ke sebelas. Di tahun dua ribu dua belas. Kurang lebih dua puluh lima hari lagi kita akan menrayakan pesta natal. Pesta gembira bersama keluarga. Entah sendiri ataupun dengan semua anggota keluarga. Tentu moment natal adalah moment penting bagi semua umat kristen di seleuruh belahan planet ini. Tak luput saya pun menganggap memonet ini adalah moment paling penting dalam hidup saya.

Dalam hidup saya, saya bisa hitung berapa kali saya merayakan natal bersama keluarga tercinta. Juga saya bisa hitung berapa kali saya rayakan pesta penting pada moment natal itu sendirian.


Senin, 24 Desember 2012

Surat Untuk Ayah Tercinta di Surga

Arnold Bela, Foto: Dok Pribadi
Selamat berjumpa ayah. Berharap ayah baik-baik dan sehat-sehat saja disana. Ayah, sudah 9 tahun kita tidak Natal besama. Bahkan semenjak kepergianmu ke dunia kedua pada lima tahun yang lalu membuat saya harus ada perasaan iri kepada mereka yang masih mendapat kasih sayang dari ayah mereka di saat-saat seperti ini.

Ayah, hanya aku ingin sampaikan selamat Natal untuk Ayah. Saya menulis sepangkal surat yang berisikan sederetan hufuf dan kalimat yang menyatu dan membentuk sebuah paragraf yang punya makna dan arti.
Ayah, jujur dari hatiku yang paling dalam, Saya rindu Bapak. Jadinya saya teringat Natal terakhir bersama Ayah di tahun 2006 di dusun tercinta.


Senin, 03 Desember 2012

Selamat Jalan Ananias Belau

Ananias Belau 
Tong 2 tidur di satu tempat tidur
tong 2 tidur di satu tikar
tong 2 makan di satu piring
tong 2 hidup, lahir dan besar di satu rumah, bahkan diasuh pula oleh satu orang tua
tong 2 pernah mengenyam pendidikan pun sama2 dan tinggal hidup di asrama yang sama pula
tong 2 besar di alam yang sama, dimana di alam yang sangat bersahabat dengan kami, 
bersama alam yang alami dan bersahabat dengan tong 2 dan tong 2 pu ade2.

Ikatan batin antar ko deng sa sangat kuat dan teguh
tapi sekarang ko su tabaring di tempat tidur yang hanya bisa terisi oleh tubuhmu. Kau terbaring tanpa senyum dan tanpa suara.

kau sudah tidak bisa bicara dan memang tidak bisa karena saat ini kau sudah pergi dan takkan kembali
hanya ragamu yan bisa sa peluk dengan air mata dan dengan beribu pertanyaan yang terlintas dan terus terlintas mencari alasan dibalik kejadian yang telah membuatmu tak berdaya dan tak bisa bersuaralagi itu.

Air mata terus berlinang di pipi


Kamis, 08 November 2012

Tabi, Bermula dari Perdagangan


Andy Tagihuma : Foto Ist
Nama Hollandia diresmikan Kapten KNIL FJP Sachse pada 7 Maret 1910 yang menandai pembangunan perumahan dan tempat kerja; pos di Pulau Debi kemudian ditutup dan dipindahkan ke Hollandia.

SEJAK berabad-abad yang lalu Tabi yang berada di bibir lautan Pasifik dengan pemandangan indah panorama alam yang berbukit-bukit mengundang para pelaut yang melewati utara Papua untuk singgah sejenak. Keindahan Tanah Tabi itu tercatat dalam penggalan catatan harian Pdt. Bink, “Semua musafir yang mengunjungi Teluk Yotefarau Menyatakan kagum akan keindahan alamnya…kesan yang sama telah saya dapatkan tahun yang lalu, ketika mengadakan kunjungan yang singkat. Dan kini, setelah memasuki teluk itu dan kemudian dari dekat berkenalan dengan bagian dalamnya, saya harus mengatakan, “Ya, benar Teluk Yotefarau dan terutama teluk bagian dalamnya, menyajikan pemandangan yang indah.”

Para pelaut Eropa yang melakukan ekspedisi ke Samudera Hindia, dan melewati Papua di antaranya, Jorge de Meneses pada 1524, Alvaro Saavedra 1528, Grijalva Y Alvarado 1537, Inigo Ortiz de Retes 1545. De Reteslah yang memberikan nana Nova Guinea. Namun khusus untuk Tanah Tabi, pelayar berkebangsaan Prancic Louis Antonie Baron de Bougainville tiba pada 1768.


Minggu, 14 Oktober 2012

Penny Wandagau

Penias Wandagau
Peneas wandagau namanya lengkapnya. Penny adalah nama sapaan untuknya. Aku menyapa dia dengan kakak Penny. Dia bukan teman kuliahku. Dia juga bukan teman sebayaku. Aku mengenalnya satu dua tahun lalu.

Pertama bertemudengan Penny di Nabire. Aku tak mengenalnya. Aku hanya mengenal namanya. Semenjak aku bertemu dengannya pertama kali di Nabire pun aku tak mengenalnya lebih akrab. Hanya sebatas saling menyapa.

Ketika aku melanjutkan studyku di kota jayapura saya mendapat ceritera tentang dia dari beberapa temannya yang pernah hidup di asrama yang saat ini saya sedang tinggal.

Jayapura itu Ibu kota provinsi papua. Kota bersejarah bagi orang Papua. Kota pendidikan. Kota yang penuh dengan tantanga. Itulah Jayapura.

Semenjak pertama kali aku tiba di Jayapura. Tepatnya pada tahun 2010 silam. Teman-teman asramaku bercerita tentang Penny. Menurut mereka Penny orang baik. Penny adalah orang yang taat dan patuh terhadap agama yang dianutnya. Tidak lain adalah agama Kristen. Pengikut Kristus sang pembela kebenaran. Singkatnya begitulah ceritatentang Penny.

Pada tahun 2010, Penny menyelesaikan studynya di Jayapura. Selesai dengan gelar Amd.E dari Sekolah Tinggi Ekonomi Port Numbay.

Untuk mengenal sosok Penny lebih jauh, diriku melakukan komunikasi dengan Penny melalu jejaring social di dunia maya. Jejaring social facebook.

Pada bulan juni aku bertemu kembali dengan Penny di Nabire. Senyum selalu terpampang pada wajahnya ketika bertemu dengan sesamanya. Sekilas aku mempelajarinya. Saat aku menenmuinya ia selalu menyapaku dengan senyum yang tak pernah hilang dari pipinya.

Pada tahun 2011 Penny melanjutkan studinya di kota Makassar. Dan pada tahun 2012 Ia menyelesaikan S-1 di Makassar.

Penny sosok yang unik bagiku. Setelah aku banyak belajar tentang dia. Dia adalah salah satu dari sekian banyak orang yang saya pernah jumpai dan temui dalam hidup saya.

***

Penny lahir di Hitadipa. Pendidikan dasarnya atau SD ia selesaikan di kampung kecilnya. SD YPPGI HItadipa dan selesai pada tahun 2002. Jejang berikutnya yaitu, SLTPnya ia selesaikan di SLTPN 1 Sugapa dan meyelesaikan studinya di jejang SLTP pada tahun 2006. Untuk lanjut ke jenjang berikut lagi yakni SMA. Ia nekat untuk keluar dari kampungnya. Terutama tinggalkan keluarganya dan pergi merantau untuk menimba ilmu. SMA YPK Tanbernakel Nabire menjadi pilihn hatinya. Ia menyelesaikan pendidikan di tingkat SMA pada tahun 2009. Jayapura menjadi kota pilihan hatinya untuk menlanjutkan studinya ke perguruan tinggi. Ia menyelesaikan pendidikan di bangku kulaih pada tahun 2010. Kemudian Penny lanjut lagi di Makassar. Saat ini Penny sedang mengikuti tranning pada PT.Bank Papua. Penny lulus dari sekian ratus perserta dan saat ini secara resmi menjadi pegawai.

Singkatnya perjalanan study Penny yang aku ketahui demikian,….

Jumat, 12 Oktober 2012

RIP Untukmu Pewarta Tua


“Sebelum aku melanjutkan sedikit cerita tentangmu dan cerita terakhir bersamamu, izinkankalah saya menyampaikan rasa duka yang tak terhingga atas kepergianmu. Dan izinkan pula untuk aku sampaikan rasa terimakasih yang tak terhingga untukmu”


***


Angin kencang masih menerpa tubuhku. Dingin pun tak amau kalah dengan agin. Udara yang sangat dingin terasa di tubuhku. Tubuhku tetap saja merasakan angin yang terus menerpa tubuhku. Walau tubuhku sudah kulapis dengan jacket yang tebal dan celana panjang serta kakiku ke kenakan sepatu lumpur yang besar. Sepatu itu tingganya sebatas lututku. Walau demikian dingin tetap saja kurasakan.

Mata hari sudah tak memacarkan sinarnya lagi. Ia sudah hilang dibelakang gunung. Gunung yang terletak di bagian barat ibukota kabupaten intan jaya. Hari pun terlihat gelap. Meski tak segelap malam hari. Di gunung bula terlihat awan yang tebal masih menutupi pepohonan dan ujung dari gunung itu. Tak satu pun yang bisa dilihat dengan mata telanjangku. Barangkali untuk orang lain pula pada saat itu.

Hari itu suhu memang sangat dingin. Dan itu harus saya akui. Ditengah kedinginan itu tetes-tetes air hujan pun turun tiada henti. Hujan tidak deras. Hanya gerimis. Sempurnalah. Angin yang bertiup kencang. Suhu yang sangat dingin ditambah lagi dengan hujan gerimis disore itu. Tubuhku tetap saja merasakan dingin itu. Rumit untuk digambarkan.

Aku melangkah ke Waboagapa. Jaraknya kira-kira 6 km dari tempatku. Tidak ada angkot. Tidak ada becak. Tidak ada taksi. Tidak ada ojek. Apalagi kendaraan umum. Maklum daerah yang baru berkembang semenjak daerah itu dimekarkan menjadi daerah otonom baru.

Niatku ingin ke sana untuk bertemu dengan Misael Sondegau. Teman kuliah dan teman seasramaku di Jayapura yang saat itu sedang berlibur bersama keluarganya disana. Niat untuk menemui misael memaksaku untuk harus pergi kesana.

Aku bertemu dengan Misael di Yokatapa. Misael mengajakku untuk pergi kerumahnya. Saya mengiyakan dan kami pun pergi. Kami sudah sampai dirumahnya. Rumah terliahat sepi. Hanya hewan piaraan yang ada dihalaman rumah. Misael mengajakku membuka sepatu yang aku pakai. Tidak lama kemudian suara orang terdengar. Suara yang taka asing bagi aku dan tentu untuk Misael pula. Langsung kutebak. Itu suara ayahmu, Misael.


***

Ingatanku masih segar. Suara terakhirmu yang kudengar itu masih tersimpan di dalam memory ingatanku. Kapa miee… (datang kemari) sahutmu dari dalam rumahmu yang tua itu. Barangkali rumah itu sudah berusia belasan tahun. Material rumah itu sudah menghitam. Hampir tak kelihatan warna material aslinya. Jelaslah rumah itu sudah tua. Tentu umurnya pun sudah tua. Bahkan puluhan tahun. Pastinya aku tidak tahu berapa usia rumah itu.

Suara lantangmu yang taka sing untukku itu terdengar di telingaku. Aku lebih dulu menghampiri rumah tradisional itu. Aku melangkah masuk kedalam mendahului Misael, putramu.

Kudapati kau sedang makan. Makan bete. Bete yang dipanen dari kebunmu. dan tentu kebunmu itu jauh dari rumah. Kau bersama kekasihmu sedang menyantap makanan yang sudah dimasak oleh kalian berdua itu. Aku senyum terharu sambil menyapamu. Kekasihmu menyapa aku lebih dahulu berikutnya kau menyapa aku. Sekilas memandang wajahku, kau sedikit cuek memandang wajahku. 

Kau mungkin sempat mencari aku. Siapa saya sebenarnya. Tetapi kekasihmu yang selalu dan setia menemani sepanjang hidupmu memberitahukanmu bahwa aku adalah anak dari almarhum ayahku yang juga adalah teman dekatmu.

Mendengar itu kau memandang kembali wajahku. Aku hanya tersenyum melihat aksimu itu. Kau dan kakasihmu itu memang orang baik. Sedikit iri aku pada kalian berdua. Iri gaya bercanda kalian berdua. Terfikir aku. Ternyata mereka berdua benar-benar saling menyayangi dan membina keluarga kalian dengan penuh kasih sayang.

Tak banyak bicara. Kau hanya kagum ketika memandangku. Dan terus memandangku sambil menikmati bete bakar.

Kau beri aku sebagian bete yang sudah kau belah. Saat ini aku benar-benar sadar bahwa itu makanan terakhir yang kau berikan padaku. Aku pun dengan senang hati menerima bete dari tanganmu dan menghabiskannya sambil bercerita dan bercanda bersama di rumah tua yang dulu kau buat itu.
Hari terakhir bersamamu itu takkan kulupakan. Akan slealu membekas dihatiku.

Kini giliranku untuk mengucapkan berlimpah terimakasih kepadamu. Kau pewarta tua. Kau pekabar injil. KiniAllah bapamu, Allahku dan Allah kita memanggilmu. Tak ada yang bisa membatalkan rencana Yang Maha kuasa. Itu lah yang memang terjadi dan mau tidak mau harus diterima walau hati tak rela.

Kini engkau di planet lain. Aku hanya memanjatkan doa kepada Yang Maha kuasa agar enkau diterima-Nya di tempat yang baik bersamanya.

Jasa-jasamu sebagai pewarta injil akan tetap dikenang oleh umat yang pernah kau ajarkan kabar terang. Kabar keselamatan. Kabar kebenaran. Yaitu ajaran Kristus.

Terimakasih bapak Rafael sondegau. Beristirahatlah dengan tenang. Semoga arwahmu diterima oleh-Nya.  Dan keluarga yang ditinggalkannya diberikan penghiburan yang berlimpah.

RIP. Amakanee Aita. Rafael Sondegau.

Arnold Belau


Minggu, 23 September 2012

Kau dan Saya Sudah di Atmosfir yang Berbeda Sahabatku


RIP Sahabatku
Ini hari yang ketiga. Dua hari yang  lalu sudah kudengar berita yang sangat membuat hatiku tidak tenang. Berita yang membuat aku sedih. Berita yang membuat aku pedih. Berita yang membuat hatiku risau. Bahkan berita itu membuat aku bingung dan bingung. Yaitu berita tentang kepergianmu sahabatku.

Saya tidak percaya. Hati ini tetap percaya bahwa berita itu salah. Hati ini terus berkata bahwa berita yang kudengar itu berita tidak benar, berita bohong. 

Tetapi, ternyata benar. Kau sudah pergi dan pergi terus. Takkan kembali lagi. Takkan beretmu lagi. Aku jengkel denganmu kawan. Kenapa kamu tidak beritahu saya sebelum kamu berangkat. Agar aku bisa mendengar suaramu agar disaat-saat seperti ini hatiku tetap terhibur tanpa rasa apa pun. 

Kita menjalani hidup ini bersama. Bahkan jatuh bangun di tempat tidur yang sama. Di alam yang sama. Apakah kamu lupa cerita tentang masa depan kita yang pernah kami rencanakan bersama. Sungguh aku kesal. Kesal dengan caramu.

Etapi entalah. Sekarang kamu dan saya di atmosfir yang berbeda. Kamu dan saya takkan pernah berjumpa lagi. Keculai ketika ajalku tiba. Aku pastikan akan bertemu kembali denganmu dan aku akan tersenyum ria ketika bertemu denganmu lagii. Aku akan memelukmu untuk menghilangkan kerinduan yang lama terpendam dalam hati ini. Menghilangkan bebab yang membatu dalam fikiran semenjak kau berpindah dunia.

Kini aku mengerti. Dan aku merelakanmu pergi. Tanpa memberitahu aku, Musa atau pun Sono. Kami sangat kaget dan terkejut mendengar berita yang penuh dengan sejuta pertanyaan itu. Saat ii aku sadar bahwa itu memang rencan yang tidak boleh ditolak oleh siapa pun kecuali sang Pencipta khalik. Karena Dialah yang punya kuasa dan kehendak atas setiap diri kita. 

Hari ini tepat hari yang ketiga. Dihari ini saya tidak bisa datang langsung ke tempat kami dibesarkan oleh orang tua kita bersama angin, daun dan alam yang begitu bersahabat dan alam yang masih alami. Hari ini engkau akan beristirahat di tempatmu. 

Sebenarnya hatiku berkata agar aku harus ikut antar kamu ke rumah tempat beristirahatmu yang baru. Tetapi hal ini tidak mungkin terjadi dan tidak akan terjadi. Kau menyadari hal itu. Sebab aku tidak bersayap. Seandainya aku bersayap, sejak aku mendengar berita ini aku sudah berada disampingmu. 

Dan dihari ini, aku ingin meminta maaf padamu. Karena aku tidak bisa mengatarmu ke tempat istirahatmu. Aku berharap kamu bisa mengerti kondisi aku saat ini. Dan  aku pun mengerti kondisimu. 

Hal ini tidak akan membuat aku melupakanmu begitu saja. Melupakanmu itu cerita mati. Engkau akan tetap hidup dalam sanubariku. Sejuta peristiwa dan sejuta cerita yang pernah kita lalui bersama itu takkan terhapuskan dari hatiku ini. Mungkin ketia ajalku tiba, semua cerita tentang kita itu akan berhenti dan hilang dari hidupku. 

Saya ingin mengucapkan sleamat jalan untuk yang terakhir kalinya padamu di tempat ini. Karena tak mungkin aku datang kesana dan beri slam terakhir untukmu. 

Sahabatku, satu hal yang perlu kau ingat adalah jagalah “Bunga”mu yang baru tumbuh itu meskipun kau di atmosfir yang berbeda. Agar dia tumbuh dan kelak ketika ia besar namamu akan tetap hidup. Dan juga sahabat karibmu yang kau tinggalkan itu. Ibunda “Bunga”mu.

Akhirnya, aku ucapkan 

“JIAPIA SALJU MONI SANI SELAMAT BERISTIRAHAT, BERISTIRAHATLAH DENGAN DAMAI DI TEMPAT YANG BARU UNTUKMU. SEMOGA ARWAHMU DITERIMA OLEH ALLAH SANG PELUKIS DAN PENCIPTA YANG PUNYA KUASA ATAS LANGIT DAN BUMI INI. JUGA SEMOGA ARWAHMU DITERIMA OLEH-NYA DI TEMPAT YANG BAIK PULA”.


Arnold Belau

RIP For You SMS (Salju Mon Sani)

RIP Sahabatku
Salju Moni Sani (SMS) itulah namamu kawan. Kami bertemu di pertengahan tahun 2006. Hingga saat ini. Mendengar kabar kepergianmu, sungguh hati kecil tak percaya bahwa kau sudah pergi mendahului kami semua. Saya sangat tidak mengerti dan tidak mengerti. Mengapa Moni harus pergi. Moni pergi mendahului kami karena apa? Semuanya itu kabur.

Tak ada yang bisa menjelaskan alur cerita ini. Kecuali dirimu Moni. Tapi kapan kamu akan menceritan semuanya itu pada saya. Sedangkan saat saat ini kita sudah berada di dunia yang berbeda. Kamu di dunia yang saya juga tidak tahu sedangkan saya di planet yang pernah kita ukir sebuah sejarah. Di planet yang pernah kita bercanda, tawa dan berguarau bersama. Di palnet yang penuh dengan kejahatan, penuh dengan persilatan, penuh dengan segala kriminalitas ini. 

Saya mengerti saat ini. Bahwa kau sudah taka ada. Sudah tak mungin lagi untuk bertemu bertatap muka bahkan bisa bercerita tentang masa depan kita selayaknya seperti kita masih di Jayanti, Nabire. Tempat ayah dan bunda membesarkan dan melahirkan kita. Tempat kita menyatu dengan alam dan lingkungan jayanti yang sangat bersahabat dengan kami. Tempat dimana kita bisa bermain. Disanalah tempat yang sanagat indah. Di jayanti inilah kita pernah mengukir sebuah alur cerita yang tak bisa kami lupakan bersama. Di Jayanti ini pula kita pernah merancang sebuah rencana yang kami rencanakan dengan gaya dan cara kami. Kini engkau pergi. Saya tak sanggup menjalani hidup ini untuk mencapai dan meraih rencan yang pernah kita buat itu. Sangat tidak mampu sendiri tanap dirimu, kawanku. 

Kau pernah berkata pada saya. “hidupku bagaikan langkah kakiku yang selalu silih berganti, kadang di depan dan kadangkala dibelakang pula. Namu semuanya itu kulalui jalan yang berlika-liku. Hidup penuh dengan warna dan warni. Lalu warna apakah yang harus aku pilih….??” Saya belum sempat menjawab pertanyaanmu. Sangat berbobot pertanyaanmu. Warna yang kini kau pilih adalah warna hitam dan kelabu. Itu firasat saya tentang warna yang sudah kau pilih sendiri. Saya musti akui. Bahwa untuk pribadi saya, bukan warna hitam. Dan bukan warna kelabu. Tetapi hati saya belum bisa berikan jawaban, warna apa yang menjadi pilihan saya. Dan tentu yang akan tahu tentang warna yang saya pilih adalah orang lain. Bukan diri saya lagi.

Satu yang paling taidak bisa saya lupakan, dan hal itu sudah menjadi motifasi untuk saya dari perkataamu adalah “Meskipun sakit, tetap senyum dimata publik”.  

Moni, saya sangat tidak percaya bila kamu sudah tidak ada. Dan saya juga tidak percaya bahwa bertia kemarin itu mengakhiri perjumpaan kami di planet ini. 

Seandainya saya bisa bertemu kamu di masa mendatang, saya akan menamparmu dan memukulmu hingga aku puas. Tapi semuanya itu tidak. Tidak mungkin terjadi. Waktu berkata lain. Sanga pencipat punya rencana yang lain. Dan itu saya mengerti kawan. Tetapi percayalah, kami akan bertemu kembali. 

Meskipun perjumpaan kita itu lama. Saya selalu merindukan itu. Hati ini sangat sulit untuk berkata iya.
Hati jadi risau tanpa bisingan suaramu tak terdengar di telinga saya ketika saya hendak kembali ke tempat kita dibesarkan. Tempat yang selalu menjadi saksi bisu dibalik setiap cerita yang kami susun bersama di tempat ini. Di jayanti ini. Tempat yang menyimpan sejuta kisah. Itulah jayanti. Itulah tempat kami dibesarkan.

Ah….. saya menyesal. Dan jengkel denganmu. Moni. Mengapa kamu tidak beritahu saya ketika hendak saya pergi dari tempat kita dibesarkan lebih awal dari kamu. Kamu hanya mengatakan, sobat Kapal yang akan balik dari Jayapura itu yang saya akan berangkat dari Nabire ke tempat saya kuliah. Apakah hal itu sudah kau lakukan. Saya tidak tahu. Apakah sudah kau lakukan apa belum. Atau hanya kamu menipu diri saya agar saya tidak tahu jalan yang kamu sudah lalui ini. 

Sungguh teganya kamu tidak beritahukan pada saya tentang hal ini. Saya benar-benar membenci kamu, Moni. Mungkin saya akan bertemu dirimu barulah akan saya ungkapkan semua rasa sedih, marah, benci dan kejengkelan saya pada dirimu, Moni. Tapi kapan kita akan bertemu. Hanya Tuhan yang empunyalah yang tahu rencana ini. 

Kawan, berjuta kisah sudah kita lalui bersama di planet ini. Semua cerita bersamamu itu sudah berakhir saat ini. Hari ini. Jam ini. Menit ini, dan detik ini pula. Semua sudah terhenti. Untuk mengukir cerita bersama kamu. 

Semua cerita itu sudah terukir dalam hati ini. Kamu pun demikian. Dan tentu semua cerita yang kita lalui bersama itu tak akan berakhir sampai disini. Akan saya jalani hidup ini dengan sederhana dan apa adanya dengan harapan bisa meraih harapan untuk masa depan saya. 

Kamu salah. Kamu pembohong. Kamu menipu dirimu. Jika sudah begini. Kapan kamu akan menepati janjimu untuk kembali dan membahagiakan orang tua tercinta. Apakah kamu salah pilih jalan. Atau memang karena Moni, pilih jalan ini agar taka da yang tahu dibalik semau ini. 

Kawan, hati saya tentu akan terus bertanya pada hati dan diri saya. Mengapa kau pergi secepat itu. Mengapa kau pilih jalan pintas ini. Pada hal kita belum melakukan sesuatu yang baik. Sesuatu yang indah denga bijak. Kau siungguh jahat, Moni.

Entalah, hati ini menyimpan sejuta harapan untuk bertemu dirimu lagi kawan. 

Akhirnya saya hanya bisa mengatakan “Rise in peace” untukmu kawanku. 

Dan hanya bisa saya berdoa kepada Tuhan yang selalu memberikan kami hidup, yang selalu memberikan kami nafas. Aga Dia meneriam kamu di tempat yang layak, dan di tempat yang baik pula. Semoga kamu baik-baik disana bersama sang Pencipta.

For my brother, Salju Moni Sani.

Your Brother, Patrick Arnold Belau.

Moni, Kapan Kau akan Jawab Semua Pertanyaamu ini?



Moni, Kapan Kau akan Jawab Semua Pertanyaamu ini?

Kutelusuri wall face bookmu. Ternyata kamu menyimpan sejuta pertanyaan yang selalu membuat hati murisau.Yang selalu membuat hatimu tidak tenang.Kapan kamu akan menjawab semua pertanyaan yang kamu ajukan untuk dirimu itu.
Ini beberapa pertanyaan dan pernyataan yang saya jumpai pada wall facebook, Moni.
“Bangun bangunannya lebih dulu maka manusianya akan terbangun dengn sendirinya”.
“Manusia tidak pernah menyelesaikan berbagai persoalan dan permasalahan. Melainkan hanya menyederhanakan masalahnya. Yang bisa menyelsaikan persoalan itu hanyalah Tuhan. Namun kadang manusia berkata bahawa saya sudah menyelesaikan persoalan tersebut, padahal manusia hanya menyederhanakan masalah tersebut. Maka pada intinya manusi ini penuh dengan egois-egois yang buta”.
“Dimana, yang mana, disanakh? Ataudiamana?”.
“Cari musuh boleh dari pada teman”.
“Setiap orang  tu punya gaya tapi  kenapa mereka sembunyikan ee…??”.
“Merokok dapat menyebabkan kanker hati dan serangan jantung karena cinta, namun tidak mengganggu janin dan impotensi apalagi buat wanita kehamilannya akan berjalan lancer dan baik-baik”.
“pilih yang ini juga bagus, pilih yang sana juga bagus. Lebih tepatnya pilih yang mana ya…???”.
“Jangan menghina pribadi anda dengan kepalsuan karena dialah mutiara diri anda yang tak ternilai”.
“Hati suci selalu benar, tetapi gejolak hati selalu mengubah hasrat  hati yang suci. Orang yang ada dalam hati yang suci adalah orang yang taqwa dan beriman. Itulah tantangan hidup”.
“Cintailah kekasihmu secara wajar, boleh jadi akan musuhmu dihari lain. Bencilah orang yang kamu benci sewajarnya boleh jadi akan menjadi cintamu di lain waktu”.
“Perisai terbaik adalah kebijakan yang terbaik dari kita”.
“Dimana ya, dan yang mana lagii…???”.
 “Alam papu selalu jadi rebutan manusia papua dan terutama non papua dan Kapitalis dalam hal ekonomi dan social seiring terjadi berbagai konflik yang tak pernah kami duga itu pun karena adanya keindahan alamnya dan kekayaan alam yang ada di bumi papua”.
“Konflik mengapaselalu muncul dalam hidup kita. Apakah itu salah satu cobaan untuk kita atau dengan adanya konflik bias menyederhanakan suatu persoalan”.
“Politik zaman sekarang memang jahat, karena semakin banyak manusia mengenal politik, semakin banyak manusia yang jatuh dalam kegelapan dosa .karena dengan adanya politik itu maka manusia bias menjual manusia dan HAM takanberfungi di mata publik”.
“Penyakit bukanlah sesuatu yang kita rasakan saja melainkan sesuatu yang kita lakukan terhadap sesama kita yang pada ujung-ujungnya merugikan orang lain serta sesama kita”.
“Meninggalkan keluarga sama saja dengan aku meninggalkan Jantung dan seluruh perasaanku”.
“Jalan terbaik mencari kawan adalah kita harus bersikap sebagai kawan ”.
“Sesali masa lalu karena ada kekecewaan dan penyesalan itu sebagai senjata untuk masa depan agar tidak terjadi lagi kesalahan”.
“Mama, kapan kita bertemu? Mama aku kangen…. Mama tolongg”.
“Cinta + sayang = …??”.
“Sakit di rantauan memang sangat berat untuk dijalani walau sebentar saja namun sangat menyakitkan seluruh jiwa dan raga. Badan terasa sakit mengurus kekurangan darah namun apa boleh buat aku hanya bias pasrahkan kepada Tuhan, karena bagaimana pun juga Tuhan selalu ada di pihak aku dan segala masalah dan penderitaan yang aku alami akan dihilangkan oleh Tuhan … Tuhan terimakasih karena Engkau selalu ada di pihakku. Goresan derita sani putra rantauan”.
“Lebih baik mencintai sebatang rokok dan segelas alcohol dari pada mencintai gadis yang selalu membuat sakit di hati”.
“Aduhh… kenapa nikotin begitu enak ya…?”.
“Jangan pernah engkau menyerah dalam bertindak karena baik buruknya keputusan andaa dalah yang terbaik buat anda. Segala tindakan anda tidak akan berkahir kecuali kita mati maka semuanya akan punah”.
“Kegagalan terjadi bila kita menyerah”.
“Satu kebaikan jika dibandingkan dengan sejuta keburukan dan kejelakan manakah  yang berkuasa?”.
“Mengapa dalam kehidupan ini selalu ada pilihan yang harus kupilih yah??”.
“Ambil yang manis buanglah yang pahitnya”.
“Biar sakit tetapi senyum elalu untuk publik”.
“Kapan, dimana, darimana, dengan siapa dan bagaimana??”.
“Jangan melihat kecantikan dan ketampangan dari wajah karena wajah bias menipu dan jangan melihat dan mengukur sesuatu dari kekayaan karena kekayaan bias menipu pula”.
“Cinta dating takkan kutolak, dan cinta pergi takkan kukejar”.
“Kalau takut dengan maut jangan bermain dengan maut dan kalau takut sakit hati jangan bermain dengan cinta”.
“Hidupku bagaikan langkah kakiku yang kadang didepan dan kadang dibelakang, namun didalam proses itu kulaui lika-liku hidup yang penuh dengan warna-warni maka aku selalu keliru. warna apakah yang harus kupilih??”.
“Kenapa selalu ada bintang yang memancarkan cahayanya dari Timur Papua, aku minta jawaban???”.

Kawan, ketika saya ikuti wall Facebookmu, saya jumpai banyak sekali pertanyaan. Saya tidak tahu. Apakah kamu sudah temukan jawabannya apa belum. Saya juga tidak tahu kapan kamu akan menjawabnya. Dan saya juga tidak tahu siapa yang akan menjawab semua pertanyaan yang belum sempat kamu temukan jawabannya ketika mengarungi hidup di planet ini sambil menyusun cerita dan mengukir sebuah sejarah.
Saya tidak mengerti. Sungguh tidak mengerti.
Apa yang harus saya lakukan?  Semua serba salah dan semua membingungkan saya.
Kawan, pernyataan dan nasihat  yang kujumpai di wall facebookmu itu akan kusimpan sebagai cerita tak terungkap darimu untuk saya. Dan saya akan mengenangmu di setiap langkah perjalanan hidup saya sambil melengkapi cerita yang belum saya lengkapi dalam kehidupan saya.
Saya tak tahu kapan harus kita berjumpa kembali tetapi saya akan selalu merindukan dirimu.  Air mataku menetes di pipi mengiringi kepergianmu, kawan. Tak sanggup mendengar berita itu tetapi apalah dayaku untuk berkata. Fakta berkata demikian. Tuhan punya recana. Sehinga sulit untuk berkata-kata.
Selamat jalan kawanku.

Selamat jalan, Jiapia Salju Moni Sani.