Kamis, 25 Agustus 2011

KOMUNITAS MAHASISWA INDEPENDEN SOMATUA INTAN JAYA (KOMISI)

Maisini Misael
KOMUNITAS MAHASISWA INDEPENDEN SOMATUA INTAN JAYA
(KOMISI)
Sekretariat : Jalan Kamwolker Perumnas III, Abepura-Jayapura-Papua
Mobile Phone : 0821- 9885 - 0408 / 0821- 9778 - 8806

“Bertolak Dari Diri Kembalilah ke Jati Dirimu”
Dengan melihat keberadaan kabupaten Intan Jaya yang sangat tidak memungkinkan untuk menerima dan memasukan PT. PT Penambangan, karena Masyarakat kabupaten Intan Jaya sangat mengantungkan hidup mereka pada sungai – sungai yang ada untuk bercocok tanam lagi pula masyarakat bermukim di sekitar pinggiran sungai – sungai, maka Komunitas Mahasiswa Independen Somatua Intan Jaya (KOMISI) berkomitmen untuk jalan kaki dari Paniai – Enaro menuju Intan Jaya sambil Sosialisasi dari Distrik ke Distrik di Kabupaten Intan Jaya mengenai bahaya limbah PT. PT Penambangan yang akan masuk di kabupaten Intan Jaya di kemudian hari.
Berikut ini nama – nama Komunitas Mahasiswa Independen Somataua Intan Jaya yang melakukan sosialisasi ke daerah – daerah di Intan Jaya;
1. Misael Maisini, selaku Ketua KOMISI
2. Karel Kobogau, selaku Serkretaris KOMISI
3. Petrus Ugipa, selaku Koordinator KOMISI Distrik Wandae
4. Arnoldus Belau, Koordinator Publikasi & Dokumentasi KOMISI
5. Deserianus Bagubau, selaku Anggota KOMISI
6. Domi Dendegau, selaku Anggota KOMISI
7. Nemi Kobogau, selaku Anggota KOMISI
8. Engel Zonggonau, selaku Anggota KOMISI

9. Emanuel Tipagau, selaku Anggota KOMISI
10. Apele Majau, selaku Anggota KOMISI
11. Yan Kobogau, selaku Anggota KOMISI
12. Melen Ugipa, selaku Anggota KOMISI
13. Yunus Bagubau, selaku Anggota KOMISI
14. Osea Sani, selaku Anggota KOMISI
15. Kristianus Migau, selaku Anggota KOMISI
16. Rafael Kobogau, selaku Anggota KOMISI
17. Pilemon Mujijau, selaku Anggota KOMISI
Tepatnya hari Selasa tanggal 19 Juli 2011 pukul 07. 30 malam KOMISI mulai bergerak ke Paniai menggunakan Strada dan tiba di sana pukul 06.30 pagi. KOMISI menginap di salah satu rumah masyarakat di sebelah kali Enaro dan besok harinya KOMISI mengikut perahu Jongsong milik masyarakat Paniai menuju pasir putih, setibanya disana komisi menggunakan motor ojek untuk melanjutkan perjalanan ke ujung jalan pasir putih. KOMISI berjalan selama beberapa jam untuk mendapatkan kampung Ibosiga, tepatnya jam 04. 35 KOMISI tiba di kampung Ibosigga.
KOMISI dengan jumlah yang sangat banyak sehingga kOMISI menginap di dua rumah di kampung Ibosiga, rombongan ketua komisi Misael Maisini menginap di Rumahnya salah satu Frater yang bersal dari kampung itu. Sedangkan rombongan Sekretaris KOMISI Karel Kobogau bersama Kepala Desa Maidano bermalam di sala satu Rumah yang di sediakan masyarakat setempat untuk para Pelayan Misi Katolik di Kampung itu.
Jumat pagi tanggal 22 Juni 2011 pukul 06.30 KOMISI mulai berjalan menuju Maidano Intan Jaya, pukul 09.00 KOMISI tiba di Jemenataga dan selanjutnya pukul 11.35 KOMISI tiba di Magataga dan akhirnya pukul 04.00 KOMISI Tiba di Gepero. KOMISI Istirahat sejam di kampung tersebut sambil membagikan selebaran sosialisasi umum, selanjutnya komisi melanjutkan perjalanan menuju Maidano bersama kepala desa setempat dan tiba disana pukul 06.30
Besok harinya sabtu tanggal 23 Juli 2011 pukul 09.45 KOMISI melakukan sosialisasi atas bantuan kepala desa setempat serta para pelayan umat setempat. KOMISI memberikan pemahaman kepada masyarakat setempat dihalaman Gereja Maidano mengenai bahaya limba PT. PT Penambangan yang akan masuk di Kabupaten Intan Jaya dikemudian hari.
Yang hadir saat itu adalah masyarakat tiga kampung dengan masing masing kepala kampung, yakni kepala kampung Debasiga I Wilem Somau, kepala kampung Debasiga II Timotius Holombau dan kepala kampung Isandoga Aner Nagapa, para pelayaan umat setempat, kepala suku Distrik Wandae Jebu Sinipa serta Intelektual setempat.
KOMISI melakukan sosialisasi awal di kampung itu, setelah memberikan pemahaman kepada masyarakat setempat sambil membagikan selebaran dan menjelaskan isi selebaran KOMISI memberikan kesempatan kepada masyarakat setempat untuk menyampaikan pendapat mereka tentang bahaya limba pertambangan dikemudian hari.
Kepala Suku Distri Wandae Jebu Sinipa; adik – adik saya takut akan bahaya limba penambangan, karena akan mengancam kelangsungan hidup kami (masyarakat), karena kami pada umumnya berkebun di pinggiran sungai ini (Kemabu) sehingga yang kami inginkan hanyalah:
01. harus memperhatikan bahaya Limba, artinya bahwa; limba jangan dibuang ke
sungai Wabu, sungai Kemabu, sungai Mbiabu maupun sungai sungai lainya di Intan Jaya. Limba harus dibawa dalam Pipa dan sebelum di buang ke lautan harus di olah menjadi Air biasa atau air Bersih lalu dibuang ke lautan, sebab di laut juga masih ada makhluk hidup yang ingin hidup seperti makhluk makhluk lain di muka bumi ini.
02. PT. PT Penambangan boleh masuk dan Operasi dengan catatan harus
membuat perjanjian kerja sama yang jelas dan terbuka serta dapat dibuktikan
kebenarannya, dengan memakai pendekatan 40% untuk masyarakat adat
atau memakai mekanisme Famisasi bagi masyarakat pemegang hak ulayat
dan 60% untuk Investor.
Apabila kedua (2) hal ini tidak di terima oleh PT. Freeport maupun PT. PT Penambangan lainnya yang akan masuk di Intan Jaya, maka Masyarakat Adat selaku Pemegang hak ulayat tidak mengijinkan PT. PT Penambanagan masuk di wilayah kami, hal yang senada diungkapkan oleh kepala kampung Debasiga I Wilem Somau
Paitua Somau: saya merasa sudah cukup hidup bahagia dengan apa yang diberikan dari alam ini kepada saya dan saya merasa sakit perut dan kecewa, karena alam ini dirusakkan sehingga penghuni – penghuni alam ini entah kemana. Apakah,? dengan kehadiran pertambangan akan menambah penduk pribumi di tempat. Saya merupakan kemabu, yang saya mau semua sepakat dan komitmen untuk tidak menerima perusahaan pertambanagan sampai Tuhan Yesus datang, ini saja tidak ada yang lain.
Setelah mendengarkan keinginan dan kemauan dari masyarakat setempat, maka KOMISI istirahat beberapa menit lalu melanjutkan perjalanan ke Mbiulagi Distrik Wandae pada pukul 03. 50 dan tiba di Wandae pukul 07. 30. Setelah bermalam di situ KOMISI melanjutkan sosialisasi yang kedua di halaman Kantor Distrik wandae Pada hari minggu tanggal 24 juli 2011 pukul 02.00 WPB.
KOMISI memberikan pemahaman kepada masyarakat setempat sambil membagikan selebaran sosialisasi umum yang akan diadakan disugapa ibu kota kabupaten pada tanggal 10 – 11 Agustus 2011. Setelah memberikan pemahaman KOMISI memberikan waktu kepada masyarakat.
Masyarakat setempat sebagian besar menyatakan bahwa; ditempat ini selalu datang orang – orang asing, orang – orang asing ini datang hanya untuk menipu kami dan mencuri kekayaan kami, sehingga kami tidak terima PT. PT Penambangan masuk wilayah Intan Jaya. pada beberapa bulan lalu orang – orang asing datang ke tempat ini dan mencuri sesuatu yang kami anggap keramat dan berharga, akhirnya kami kehilangan sumber pembuatan garam asli (Mue Kumu) di tempat ini. Dulunya kami merasa kaya raya dengan hasil garam ini, namun apa boleh buat karena orang – orang asing telah mencurinya.
Setelah mendengarkan pernyataan masyarakat setempat, KOMIS bermalam di Mbilaggi di Rumanya Ketua Koordinator KOMISI wilayah Wandae, yakni Petrus Ugipa. besok harinya KOMISI melanjutkan perjalanan ke Distrik Homeyo pada pukul 07.00 dan tiba di sanepa pukul 11. 00. KOMISI istirahat selama dua (2) jam lamanya di Sanepa lalu KOMISI melanjutkan perjalanan ke Pogapa Distrik homeyo pada pukul 01. 30 dan KOMISI tiba di Homeyo pada pukul 03. 00.
Besok harinya tepatnya pada tanggal 26 Agustus 2011 KOMISI melanjutkan sosialisasi atas bantuan kepala desa dan Intelektual setempat. setelah sosialisi KOMISI memberikan kesempatan kepada masyarakat setempat.
Yang kami inginkan hanyalah sepakat untuk tidak menerima PT. PT Penambangan masuk di wilayah Intan Jaya, karena beberapa bulan lalu orang – orang asing datang ketempat keramat (Wutilimba) yang kami anggap suci dan memotret beberapa kus – kus (Dinggi So), sehingga keluarga kami meninggal dunia. setelah mendengarkan pendapat masyarakat setempat KOMISI melanjutkan perjalanan ke Bilae. Setibanya disana KOMISI Istirahat selama dua hari di Rumannya sekretaris KOMISI Karel Kobogau.
KOMISI melanjutkan perjalanan pada hari kamis tanggal 21 Juli 2011 pukul 08.00 ke Sugapa Ibu Kota Kabupaten Intan Jaya, dan tiba di sana pukul 05. 35. KOMISI bermalam di Rumanya Koordinator KOMISI Wilayah Sugapa,yakni Misael Sondegau. Besok harinya KOMISI di beri sala satu tempat tinggal untuk dijadikan sekratariat oleh Misi katolik Bilogae.
KOMISI terpencar kemana – mana guna mengadakan sosialisasi dari rumah ke rumah dan pada hari minggu tanggal 31 Juli 2011 Ketua KOMISI bersama Koordinator KOMISI Wilayah Wandae Petrus Ugipa menuju ke Titigi untuk beribadah disana sambil Sosialisasi.
Setelah ibadah KOMISI melanjutkan dengan sosialisi sambil membagikan selebaran kepada masyarakat Titigi. setelah sosialisasi kepada masyarakat setempat KOMISI memberikan waktu kepada masyarakat untuk menyampaikan Pendapat mereka.
Enos Kum: dulu negeri ini ibarat firdaus yang begitu kaya raya (sonowi emo), namun dengan datangnya orang – orang yang tidak tau diri menghancurkan negeri ini. Yang jelas dengan kehadiran PT. PT Penambangan di intan jaya malah akan lebih parah,karena gunung, Bukit, Hutan belukar, telaga, sungai, gua dan segala kekayaan alam milik kami akan dirusakkan oleh PT. PT Penambangan. Ini berarti kami tinggal tungguh waktu untuk habis dari tanah leluhur kami,. Semoga PT. PT Penambangan tidak masuk di Intan Jaya.
Julita Mujijau: saat ini saja kami ada susah apalagi dengan kehadiran PT. PT Penambangan di Intan Jaya, tutup saja.
Jermias Hagisimijau: Perusahaan Penambangan akan datang untuk menghabiskan isi kekayaan alam kami, tapi hasil kami tidak nikmati. Semua sumber – sumber hidup kami akan dimatikan dan kami juga akan mati satu persatu. Sehingga kami masyarakat akan sama – sama dengan semua orang yang peduli bersatu dan tutup saja.
Romanus Mujijau; Kami akan menjadi penonton seperti di Timika. namun kami tidak dapat makan dan hidup yang baik dari hasil kekayaan alam kami dan juga kami tinggal dibagian muara sungai sehingga akibat limba pertambangan sumber – sumber hidup kami akan dimatikan, sehingga kami akan habis, lebih baikTutup saja Perusahan Pertambangan.
Setelah KOMISI mendengarkan pendapat dari masyarakat setempat, KOMISI bermalam disitu selam dua hari dan KOMISI melanjutkan perjalanan ke Distrik Hitalipa pada hari Selasa tanggal 02 Agustis 2011 untuk melakukan sosialisasi yang kelima,
namun karena waktu tidak memungkinkan untuk KOMISI melakukan sosialisi, maka KOMISI membagikan selebaran ke Gereja Kombogosiga, Pugusigga, Kulapa, Sabenepa, Isigga, Janamba, Soanggama, Sugapa lama, Uyamuloggo, Tausigga dan beberapa daerah lainnya di Distrik Hitalipa.
Minggu tanggal 07 Agustus 2011, setelah Ibadah di Wabo Agapa seperti biasanya KOMISI melanjutkan Sosialisasi di situ. KOMISI memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memberikan pendapat mereka.
Kepala Desa Mindau: PT. Freeport sudah membunuh generasi intan jaya dengan eksplorasi di beberapa tempat di Wabu, dan sudah ambil hasil kandungan alam kami sehingga PT. Freeport jangan cobah – coba datang operasi lagi, saya sudah sumpah.

Stepanus Sondegau: yang kami inginkan hanyalah sepakat dan komitmen untuk tidak menerima PT. PT penambangan masuk di Intan Jaya, karena yang punya alam adalah kami, yang menjaga adalah kami, tetapi kami tidak akan menikmati hasil kekayaan alam kami, malah hudup kami nantinya lebih buruk dari hari ini,.. semoga perusahaan pertambangan tidak masuk di Intan Jaya.
Herodia Sani: hasil kekayaan alam milik kami sudah dirusakkan oleh PT. Freeport dan belum bayar sampai detik ini, untuk itu PT. Freeport jangan datang lagi ke Intan Jaya.
Musa Sondegau: kami mau tinggal dan hidup dimana,.? Satu – satunya sungai yang memberikan kami hidup hanyalah sungai ini (Wabu). kami sangat takut dengan PT. PT Penambangan yang akan mengancam hidup kami dan generasi kami, karena semua penghasilan hidup kami sehari - hari bersal dari pinggiran sungai – sungai ini.
Bendeta Tigau: sepakat dan komitmen untuk tidak terima PT. PT Penambangan masuk di Intan Jaya, tutup saja PT. PT Penambangan.
KOMISI istirahat selama beberapa hari dan tepatnya pada tanggal 10 Agustus 2011 KOMISI mau melakukan sosialisasi sesuai dengan jadwal, namun karena satu dan lain hal, maka KOMISI merencanakan untuk sosialisasi pada hari Jumat.
Tepatnya pada hari Jumat tanggal 12 Agustus 2011 pukul 10.00 KOMISI melakukan Sosioalisasi Umum di Pasar Sugapa Ibu Kota Kabupaten Intan Jaya, setelah melakukan Sosialisasi mengenai bahaya limba Penambangan KOMISI memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menyampaikan pendapat mereka.
David Kobogau: limbah penambangan harus dibawa dalam pipa dan diolah menjadi air biasa lalu dibuang kelautan mengingat dilautan masih ada makhluk hidup. Apabila hal ini sudah ditandatanggani hitam diatas putih oleh PT. PT Penambangan yang akan masuk wilayah Intan Jaya, maka hal yang kedua adalah membuat perjanjian kerja sama yang jelas, terbuka serta dapat dibuktikan kebenaran-nya, yaitu memakai mekanisme Famisasi atau 40% untuk pemilik hak ulayat sedangkan 60% untuk Investor.
Kedua hal diatas sudah disepakati bersama – sama dengan melibatkan Investor,Pemerintah dan Masyarakat adat, maka PT. PT Penambangan boleh masuk, jika belum ada kesepakantan diatas, maka tidak diijinkan untuk PT. PT Penambangan masuk wilayah Intan Jaya.
Andreas Duwitau Tokoh Pemudah : kami masyarakat sepakat dan komitmen untuk tutup saja PT. PT Penambangan yang masuk wilayah Intan Jaya, karena tidak ada keuntungan satupun bagi kami masyarakat adat, Tutup Saja.
Bernabas Tipagau Tokoh Masyarakat: PT. PT Penambangan sangat mengancam kelangsungan hidup kami dan generasi kami, jadi kami sepakat dan komitmen untuk tutup saja PT. PT Penambangan yang masuk Intan Jaya.
Emelia Sani Tokoh Wanita: kami punya generasi mau kemanakan,.? Hidup kami hanya tergantung dari sungai – sungai ini, tidak ada tempat bagi kami untuk hidup. Tutup saja PT. PT Penambangan yang masuk di Intan Jaya.
Thomas Sondegau Tokoh Pemuda: kami masyarakat sepakat dan komitmen untuk tutup PT. PT Penambangan yang masuk di Intan Jaya, karena PT. PT Penambangan datang juga pasti hidup kami tambah susah dari sekarang, tidak ada pilihan lain, jadi tutp saja.
Servina Duwitau: kami mau tutup saja PT. PT Penambangan, tapi di tempat ini banyak Yudas Iskariot yang sudah jual kami dan nati jual kami hanya untuk kepentingan diri sendiri dan kelompok sendiri, tapi hasil itu dia akan dapat di kemudian hari.
Milon Ama Maisini; orang – orang seperti yang dulu sudah punah dari tempat ini, sehingga kami mencari orang – orang itu. Pasti saja dengan kehadiran PT. PT Penambangan sangat mengancam generasi kami, sehingga waktu demi waktu kami juga akan habis dari tanah leluhur kami, tutup saja PT. PT Penambangan yang masuk di Intan Jaya.
Yunus Sani: Perusahan Penambangan boleh masuk, tapi dengan catatan kimia harus dibawa dalam pipa dan sebelum buang ke lautan harus di olah menjadi air biasa, apabila hal ini Ditandatangani hitam diatas putih oleh Perusahan yang akan masuk, maka yang kedua adalah pembagian hasil dengan mekanisme Famisasi atau 40% untuk masyarakat adat dan 60% untuk Investor, kalau tidak mau terima ini kita tunggu negara lain, itu saja tidak ada lain.
Sugapa Lama Wandagau: kami semua harus sepakat dan komitmen untuk pulangkan Perusahan Penambangan, karena perusahaan akan membuang limbah ke sungai – sungai yang ada di Intan Jaya. ini berarti kita tidak akan hidup di intan jaya, tapi kita akan habis satu persatu, tutup saja dari pada kita yang habis.
Herman sondegau: kami masyarakat sepakat dan komitmen untuk tolak perusahaan pertambangan, karena tidak ada keuntungan satupun dari perusahaan. Kami minta bantuan pesawat perusahaan untuk mengantar masyarakat yang sakit, namun perusahaan tidak pernah tolong kami, walaupun memo sudah dikasih dari pemerintah intan jaya, bukan itu saja yang kami hadapi. Masih banyak hal yang tidak dapat kami sampaikan. Kami merasakan bahwah besok - besok perusahaan pertambangan ini sangat membunuh kehidupan kami dan kehidupan generasi kami untuk itu kami harus sepakat dan komitmen sera membangaun kekuatan untuk pulangkan setan ini (PT. Freeport).

Berdasarkan hasil sosialisasi dari KOMUNITAS MAHASISWA INDEPENDEN SOMATUA INTAN JAYA (KOMISI) Sebagian besar masyarakat adat (99%) selaku pemegang hak ulayat menyatakan bahwa; tidak menerima PT. PT Penambangan, karena kami (masyarakat) tidak ada tempat untuk bercocok tanam dan masih mengantungkan hidup kami dari pinggiran sungai Wabu, Kemabu, Mbiabu maupun sungai – sungai lainya, lagi pula kami (masyarakat) bermukim di pinggiran sungai – sungai dan muara sungai – sungai ini. Apabila perusahaan pertambangan di paksakan masuk di Intan Jaya, maka kami dan generasi kami akan kemana,.?
Yang jelas dengan kehadiran PT. PT Penambangan di Intan Jaya akan membunuh kami dan generasi kami, sehingga kami juga meminta kepada Judas – Yudas Iskariot yang selalu jual kami hanya untuk memuaskan kepentingan diri sendiri dan kepentingan kelompok untuk segerah berhenti menjual kami lagi. Kalau tidak Yudas – Yudas ini akan ditelan oleh alam ini, sehingga jangan main – main dengan alam ini, karena alam ini juga suatu saat akan bermain – main denganmu.
Sedangkan masyarakat sebagian kecil (1%) masih takut dengan limbah penambangan , sehingga masyarakat menyatakan bahwa: Perusahan Penambangan boleh masuk dengan catatan bahwa; (1). Llimbah penambangan harus dibawa dalam pipa dan sebelum dibuang kelautan harus diolah menjadi air biasa , lalu di buang ke laut, karena di laut juga masih ada makhluk hidup yang ingin hidup seperti makhluk – makhluk lain di muka bumi ini. apabila poin pertama ini sudah disepakati dan Ditandatangani hitam diatas putih oleh pihak perusahaan pertambangan, maka hal yang kedua (2). Adalah pembagian hasil harus memakai mekanisme Famisasi atau 40% untuk masyarakat adat dan 60 % untuk Investor, apabila ke dua (2) hal ini disetujui oleh PT. PT Penambangan yang akan masuk di Intan Jaya ,
maka yang ketiga (3). Adalah Tiga pihak harus duduk dan tanda tangan hitam diatas , yaitu masyarakat adat selaku pemilik hak ulayat, pemerintah kabupaten intan jaya dan investor.
Apabila ke tiga (3) hal diatas sudah terjadi , maka kami juga akan menerima PT. PT Penambangan untuk masuk operasi di Intan Jaya, tapi kalau ketiga (3) hal diatas belum terjawab, maka untuk sementara sabar (Biar dia tinggal).
Setelah mendengarkan pendapat Masyarakat Intan Jaya dari Distrik ke Distrik dan dari kampung ke kampung yang dimulai dari kampung Maidano Distrik Wandae pada hari sabtu tanggal 23 Juli 2011 sampai dengan Distrik Hitalipa di Hitalipa hingga sosialisasi umum di Distrik Sugapa Ibu Kota Kabupaten Intan Jaya pada hari Jumat tanggal 12 Agustus 2011,maka KOMISI (KOMUNITAS MAHASISWA INDEPENDEN SOMATUA INTAN JAYA) menyimpulkan hasil sosialisasi tersebut dalam bentuk press release berikut ini:

PRESS RELEASE/V/KOMISI/VIII/2011

Masyarakat Intan Jaya pada umumnya masih mengandalkan hidup mereka pada alam dan sungai – sungai disekitarnya yang mereka anggap merupakan tempat satu – satunya untuk memenuhi kehidupan mereka sehari – hari.
Mereka menolak kehadiran PT. PT Penambangan, karena sungai – sungai itu yang menghidupkan mereka dari generasi ke generasi dan mereka rasa tidak ada tempat bagi mereka dan generasi mereka apabila perusahaan pertambangan dipaksakan masuk dan operasi di Intan Jaya, karena tidak menutup kemungkinan yang jelas limbah penambangan akan dibuang ke sungai – sungai yang ada di intan jaya.
Untuk itu KOMISI menegaskan kepada pihak – pihak yang masih takut akan bahaya limba pertambangan, namun masih menerima PT. PT Penambangan untuk masuk operasi di intan jaya segera sadarkan diri. Jangan jadi Yudas Iskariot dan membunuh masyarakat Intan Jaya dengan menghadirkan PT. PT Penambangan hanya untuk memuaskan kepentingan diri sendiri dan kepentingan kelompok.
KOMISI juga menegaskan kepada PT. Freeport yang sedang melakukan eksplorasi tahap kedua (2) di basecam wabu sugapa – intan jaya segera berhenti sampai disitu jangan lagi masuk ke tahap ke tiga (3) , karena perusahaan belum melakukan kewajiban perusahaan, yaitu; mengadakan Penghijauan (REKLAMASI) kembali terhadap kerusakan yang sudah pernah dikasih botak oleh PT. Freeport. beberapa gunung yang di kasih botak tersebut merupakan tempat – tempat sumber berburuh, tempat buah pandang, tempat rotan, tempat kayu dan lain lain dan sampai saat ini belum bayar ganti rugi semua kerusakan tersebut, sehingga PT. Freeport jangan coba – coba untuk masuk eksplorasi ke tahap ketiga.
Apabila perusahaan masih melakukan aktivitasnya, maka kami juga tidak main – main untuk membangun kekuatan untuk menghentikannya.

Press release ini kami buat dengan sesungguhnya untuk dapat ditindaklanjuti oleh pihak-pihak terkait demi menyelamatkan dan melindunggi umat TUHAN di Wilayah Intan Jaya dari bahaya Kapitalisme, yang akan mengancam kelangsungan hidup masyarakat Intan Jaya secara pelan, tapi pasti.

Jayapura, Rabu 24 Agustus 2011

“Apa Yang Engkau Tabur Kini, Engkau Akan Menuainya”

KOMUNITAS MAHASISWA INDEPENDEN SOMATUA INTAN JAYA (KOMISI)
KETUA

MISAEL MAISINI

Senin, 22 Agustus 2011

PUNYA SERTIFIKAT KOMPUTER TETAPI TIDAK BISA MENGOPERASIKAN KOMPUTER

Pada masa era global ini minimal untuk mengoperasikan computer harus bisa oleh setiap manusia di belahan dunia manapun, karena computer adalah sebuah saran yang diciptakan untuk membantu aktifitas meanusia untuk kenutuhan hidupnya. Lebih parah bila tidak bisa mengoperasikan computer. Karena computer mekebutuhan utama yang tak terlepas dari kebutuhan lainnya, misalnya untuk mengetiak pada zaman dahulu masih menggunakan tulisan tangan dan juga maih mengguanakan mesin ketik manual.

Namun pada perkembangan zamn yang begitu cepat akhirnya untuk menulis surat ataupun yang lainnya tidak memerlukan tulisan tangan maupun tik-kan dari mesin tik manual. Artinya bahwa computer di era globalisasi ini sangat penting karena semuanya baik untuk men-tik surat-surat maupun men-tik kebutuhan lainnya tidak memerlukan tik-kan mesin ketik manual maupun tulisan tangan tetapi semuanya itu semuanya menggunakan computer.

Sehingga tidak heran jika zaman sekarang mulai darri anak-anak maupun tingkat dewasa mengguanakan computer. Di negara-negara bekembang sudah mengkomputerisasikan computer dalam kehidupan masyarakat sehingga di beberapa negara seperti Amerika Serikat dan beberapa negara maju lainnya meenggunakan computer dengan bantuan jaringan internet bisa menggukana computer itu sebagai saran untrue mengajar dan kebutuhan lainnya, pendidikan dari rumah artinya tidak ke sekolah lagi namun guru-guru hanya mengajar lewat janringan yang ada sehingga bisa mendapatkan pengajaran dari guru-gurunya dari rumah saja.
Manfaat komputer dalam kehidupan sehari-hari sangat banyak dan membantu, mempermudah, mempercepat pekerjaan-pekerjaan manusia yang mungkin sulit bila tidak menggunakan komputer diantaranya adalah:
1. Bidang Pendidikan
Kita tahu bahwa untuk memanfaatkan TIK dalam hal pembelajaran tidak semudah dibayangkan.Perlu beberapa syarat yang harus dipenuhi demi terwujudnya pemanfaatan TIK dalam pembelajaran,diantaranya :
-Adanya akses teknologi internet untuk guru maupun siswa,baik di dalam kelas,sekolah,maupun lembaga pendidikan guru,
-Adanya materi yang bermutu bagi guru dan siswa,
-Guru harus harus produktif terhadap perkembangan TIK.
2. Bidang Kesehatan
Salah satu Dari manfaat komputer dalam bidang kesehatan adalah Mempermudah dokter dan perawat dalam memonitor kesehatan pasien, monitor detak jantung pasien lewat monitor komputer, aliran darah, dll. Itu adalah salah satu manfaat komputer dalam bidang kesehatan.
3. Bidang Transportasi
Dengan adanya komputer semua jadwal dan jalur penerbangan yang transit dibandara bisa di program dan dijadwalkan dengan komputer.Untuk menerbangkan sendiri pesawat dilengkapi dengan peralatan komputer.
4. Bidang Jasa Pengiriman Barang
Dengan adanya komputer dan internet orang tidak lagi menunggu berhari-hari menerima surat, cukup lewat email saja lebih cepat dalam sekejap.
5. Bidang industri Otomotif
Mobil-mobil di buat dari kerangka body, mesin, peralatan elektronik di pabrik denga bantuan robot yang dikendalikan oleh komputer. Dengan bantuan komputer pabrik-pabrik otomotif bisa memproduksi mobil dalam jumlah ratusan perbulan.
6. Bidang Jasa Konstruksi
Dengan komputer para insinyur dan arsitek mendesain gambar konstruksi dengan permodelan dan perhitungan yang akurat dan cepat yang dioperasikan dengan bantuan komputer.
7. Bidang Industri Perfilman
Semua efek-efek di dunia akting, animasi, dan penyotingan adegan film semua di rekam dengan perangkat elektronik yang dihubungkan dengan komputer. Animasinya juga di kembangkan mempergunakan animasi yang dibuat dengan aplikasi komputer.
8. Bidang Industri Rekaman
Bahwa untuk menghasilkan suara yang bagus perlu pengaturan perekam dan modifikasi suara dengan media komputer.
9. bidang Pertahanan dan Keamanan
Negara maju seperti Amerika telah dilengkapi dengan peralatan satelit yang dikendalikan dari Bumi. Amerika menggunakan Jaringan Inteligen yang dilengkapi dengan Teknologi komputer dan Informasi modern.

Beberapa waktu lalu ada seorang pemuda yang baru saja diangkat menjadi CPNS (Calon Pegawai Negri Sipil) dari sebuah kabupaten pemekaran di pegunungan Papua Tengah, datang ke tempat saya dan teman-teman saya. Dimana kami diberikan sebuah kamar untrue dijadikan sebagai secretariat sementara untrue kegiatan Sosialisasi Manusia dan Alam Intan Jaya. Pada saat itu pemuda itu datang dan meminta laptop milik saya untrue belajar men-tik, lalu saya tidak mengabulkan permintaannya. lalu pemuda itu mengatakan bahwa “ sa ini punya sertifikat computer yang Pemda kasih tapi saya tidak tahu cara mengoperasikan computer” lalu say bertanya lagi , Kemudian Sertifikat itu Pemda berikan kepada ko dengan kop u teman-teman dengan tujuan apa? ah. . . . . .pemda dorang kasih saja ini, say ajuga tidak tahu karena saya tidak tahu gunakan computer jadi nanti saya bakar saya punya sertifikat itu, katanya.
PEMDA tidak bisa memberikan sertifikat computer bila bawahannya tidak bisa meng operasikan computer karena itu sama saja dengan membodohi bawahannya. Bila ingin meyekolahkan pegawainya agar bisa mengoperasikan computer maka tiap kepala dinas harus menyekolahkan ataupun memberikan pelatihan dan memberikan izin untuk pegawainya bisa mengoperasikan computer, bukan dengan cara memberikan sertifikat kepada orang yang sama-sekali tidak bisa mengoperasikan computer. Hal semacam ini sangat jelek karena nama kabuaten jelek dan juga bila punya sertifikat tetapi tidak bisa mengoperasikan computer berarti yang malu adalah pihak yang memberikan sertifikat kepada orang yang tidak bisa mengoperasikan computer karena sudah membodohi orang lain dengan memaksakan keadaan.

Arnold Kiba Belau )*

Jumat, 20 Mei 2011

AJARAN BUDDHISME TENTANG DUKKHA DAN RELEVANSINYA DENGAN PENDERITAAN MASYARAKAT PAPUA.

Saya melihat dan mempelajari ajaran buddhisme tentang dukkha dan relevansinya dengan penderitaan masyarakat Papua. Ini menjadi sorotan untuk diselidiki. Alasan yang paling fundamental tergambar dan terlihat bahwa di sana terjadi penderitaan yang membawa suatu pengharapan. Pengharapan itu terjadi karena ada sesuatu yang dipandang sebagai tetap ada. Ada artinya sebuah jalan keluar dari penderitaan mencapai impian yaitu kebebasan. Kebebasan yang tercapai jika dan hanya jika sadar dari penderitan membawa habitus baru dalam kehidupan. Dalam tulisan saya ini tidak bermaksud menyajikan seluruh filsafat mengenai tema, namun sesuai dengan pemahaman Saya akan menguraikannya dari sudut pandang ajaran Buddhisme.

Buddhisme lahir dari ketidaksetujuan praktek ritual dalam weda yang pada awalnya berisi cara-cara praktis mencapai keselamatan. Kemudian ia berkembang menjadi satu sistem. Buddha mengajarkan bahwa kondisi realitas bersifat sementara dan berhubungan. Manusia menderita dalam hidup karena hasrat yang tak berkesudahan pada hal-hal sementara. Pembebasan dari penderitaan dilakukan dengan melatih pikiran dan tindakan. Dengan tindakan yang benar, hal yang baik akan datang.
Pandangan hidup Buddhisme bersifat pesimistis yaitu: hidup adalah penderitaan. Pesimisme itu mendorong disediakannya jalan untuk mengatasi penderitaan. Penderitaan itu terbagi menjadi tiga bagian, yang pertama penderitaan harian. Penderitan harian tampak dalam kesulitan. Kedua, Viparinama Duka adalah penderitan sebagai akibat ketidakstabilan dalam hidup. Perubahan dialami terus-menerus. Dunia, tidak stabil sementara tanpa identitas/diri. Yang ketiga, Samsara Duka adalah penderitan sebagai akibat dari kehidupan yang sudah ditentukan/ditakdirkan.

Buddha menawarkan hal yang paling penting adalah sikap moderat. Kemoderatan tampak dalam sikap mengayomi apa saja, dalam ajaran tentang kasederhanaan dalam menikmati sesuatu dan tiadanya perendahan diri yang ekstrim. Ada empat ajaran mulia yang ditawarkan Buddhisme yaitu: yang pertama Dukkha adalah penderitaan ada di mana-mana. Yang kedua Samudaya adalah sebab dari penderitaan adalah hasrat yang tidak pada tempatnya dan yang berakar dalam kemasabodohan. Yang ketiga adalah Nirodha adalah ada akhir dari penderitaan, yaitu Nirwana (kemunkinan pembebasan ada bagi setiap orang). Dan yang keempat Maggo adalah ada sebuah jalan keluar dari penderitaan yang dikenal sebagai delapan langkah mulia.

Berdasarkan ajaran Buddhisme tentang Dukkha terlihat pada realitas orang Papua dari tahun ke tahun mengalami penderitaan. Menurut Dumma Socrates Sofyan Yoman, penderitaan yang dialami masyarakat Papua adalah penjara ketakutan, kegelapan masa depan, diskriminasi, diintimidasi, diteror, dianiaya, dieksploitasi, budaya bisu dan takut yang disebabkan oleh kekejaman dari penjajahan Indonesia yang berwatak militeristik terhadap sumber daya alam yang buat mereka menderita. Masyarakat Papua menderita karena ingin bahwa segala sesuatu tetap ada, seperti sumber daya alam yang dieksploitasi oleh pemerintah Indonesia yang bekerja sama dengan investor asing seperti PT. Freeport Tembagapura. Investor asing mengeksploitasi sumber daya alam tanpa memperdulikan hak ulayat pemilik tanah. Kritik terhadap penderitaan yang dialami dari tahun ke tahun di atas tidak ada penyelesaian secara tuntas, menyeluruh dan manusiawi, sementara sumber daya alam dikuras dan dieksploitasi, sehingga generasi penerus Papua menuntut hak dan kebebasan yang paling tinggi yaitu kebahagian dari hasil sumber daya alam, tetapi yang ada hanyalah penderitaan.

Melihat realitas seperti di atas maka masyarakat Papua menuntut untuk keluar dari Dukkha dan meminta Maggo melalui aksi damai tetapi tidak diberi, sehingga Papua menjadi medan pertempuran yang besar. Pertempuran yang membawa masyarakat Papua menjadikan tanah sebagai peristirahatan terakhir. Masyarakat Papua yang mendiami tanah Papua hanya menjadi saksi bisu atas penderitaan dan mengingat sedikit dan menulis sedikit saja, tetapi dunia tidak akan lupa pada mereka yang wafat karena perjuangannya. Perjuangan itu tetap berlanjut dan dikenang terus. Kenangan untuk menyelesaikan pekerjaan mereka yang belum selesai yang telah mereka memulai dengan perjuangan dukkha yang dasyat, maka sekarang tugas generasi adalah menyelesaikan perjuangan mereka yang belum tuntas. Perjuangan Dukkha yang dialami masyarakat Papua di atas kekayan alam merupakan salah satu tuntutan pengharapan yang manusiawi, sebab ketidaksetujuan terhadap eksploitasi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia yang bekerja sama dengan investor asing. Penderitaan itu terus dialami dan diwariskan kepada generasi penerus sampai sekarang, maka reaksi dari generasi penerus sekarang adalah menuntut untuk meluruskan sejarah integerasi secara fundamental dan hakiki demi mencapai Nirvana.

Masyarakat Papua ingin hidup damai, tidak ada kerusuhan, tidak ada perang, tenang, tenteram hati, keadaan tidak bermusuhan, rukun sebagai dasar untuk membangun kesejatian hidup yang realitis di atas kekayan alamnya. Arthur Schopenhauer mengatakan bahwa: Realitas fundamental adalah kehendak. Karena kehendak akibatnya hidup dipenuhi perjuangan, konflik dan ketidakpuasan. Terinspirasi oleh Buddhisme ia mengatakan bahwa semua kehidupan adalah penderitaan yang hanya dapat diatasi dengan mengakhiri hasrat. Untuk mencapai Nirvana dalam ajaran Buddhisme perlu adanya upaya untuk menyuarakan pembebasan dari dukkha. Dukkha akan keluar, jika dan hanya jika penderitan dipandang sebagai Nirodha, maka perlu adanya Maggo sebagai jalan keluar dari penderitaan adalah hasrat. Hasratlah yang membawa pada kesadaran yang tinggi dari pemerintah Indonesia. Mengapa masyarakat Papua menuntut kebebasan dari Dukkha, karena mereka belum menemukan Maggo sebagai sebuah jalan keluar dari penderitaan yang dikenal sebagai delapan langkah mulia terhadap nasib masyarakat Papua kedepan.

Jika berdasarkan konsentrasi penuh pada ajaran Buddhisme tentang Maggo dan didukung terus oleh pemerintah Indonesia dalam mensejahterakan masyarakat Papua berarti tidak ada tuntutan untuk keluar dari integrasi dengan negara kesatuan republik Indonesia. Masyarakat Papua berpikir bahwa jika mencapai Maggo berarti tidak ada yang dipersoalkan terhadap integrasi masyarakat Papua dari negara kesatuan republik Indonesia. Fakta membuktikan bahwa Dukkha yang dialami masyarakat Papua membutuhkan ajaran Nirodha yaitu ada akhir dari penderitan yaitu Nirvana, maka untuk mencapai Nirvana perlu adanya kebenaran kesadaran sebagai jalan menuju Maggo. Realitas yang dialami harus dipandang sebagai awal dari perjuangan menuju kebaikkan. Kebaikan menghasilkan penyempurnaan pemisahan diri dari Dukkha, jika ada niat yang baik. Dukkha berarti pemisahan diri yang menghasilkan keseimbangan hubungan kekerabatan untuk membangun kebebasan. pembebasan artinya lepas dari penindasan terhadap masyarakat Papua menuju kualitas hidup yang tertinggi.

Semua penindasaan terhadap masyarakat Papua membutuhkan penyelesaian. Cara penyelesaiaannya membutuhkan keterbukaan diri dari pemerintah Indonesia. Kesadaran pencapaian Nirvana membutukan harmoni sebagai dasar perdamaian antara manusia dengan sesama untuk menciptakan toleransi. Toleransi dapat dimulai dengan membuka diri dan menghargai pandangan yang berbeda demi suatu kehidupan bersama dengan mengedepankan perikemanusian yang dapat dikembangkan melalui diri dalam relasi cinta, dan adil terhadap manusia sebagai sesama.

Dukkha pada masa kini tidak relevan untuk manusia dalam semua bidang kecuali dalam bidang-bidang tertentu seperti pendidikan. Yang dibutuhkan adalah bijaksana dalam segala hal. Jika bertindak bijaksana sesuai dengan akal budinya, maka kebahagian itu juga sama dengan keutamaan. Keutamaan dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia dengan cara berpikir dan bertindak secara rasional terhadap masyarakat Papua, dan mengajarkan Maggo sebagai jalan keluar dari Dukkha. Menurut Plato, manusia mengoptimalkan keutamaan adalah ketika manusia adil. Kejahatan terbesar adalah ketidakadilan (ketidakbenaran) saat manusia hidup jahat dan tidak tahu diri, dalam diri orang itu tidak ada harmoni. Ajaran Buddhisme dapat diterapkan dengan berkat ketenangan batin. Seandainya perasan batin tidak memberi ketidaktenangan tentang tindakan moral yang salah, juga bisa membawa dampak yang membuat masyarakat Papua menjadi canggung untuk mempertahankannya terhadap manipulasi kebodohan dan berjuang melawan dukkha.

Jadi, Penderitaan yang dialami masyarakat Papua adalah penjara ketakutan, kegelapan masa depan, diskriminasi, intimidasi, teror, aniaya, eksploitasi, budaya bisu dan takut yang disebabkan oleh kekejaman dari penjajahan Indonesia yang berwatak militeristik terhadap masyarakat Papua harus di hentikan. Yang diinginkan oleh masyarakat Papua adalah bebas dari penderitaan (dukkha) secara tuntas, menyeluruh dan manusiawi. Sehingga Sorotan yang disodorkan pun dapat memenuhi keinginan masyarakat Papua untuk hidup dengan bebas merdeka di dalan negara kesatuan republik Indonesia.

Merdeka merupakan salah satu keinginan insani yang amat mendasar. Pembebasan dari penderitan dilakukan dengan melatih pikiran dan tindakan berdasarkan aturan karma, sehingga masyarakat Papua ingin yang buat mereka mencapai nirvana adalah hidup damai, tidak ada kerusuhan, tidak ada perang, tenang, tenteram hati, keadaan tidak bermusuhan, rukun sebagai dasar untuk membangun kesejatian hidup yang realitis diatas kekayan alamnya. Masyarakat Papua membutuhkan adalah keterbukaan diri dari pemerintah Indonesia, demi membangun dan mengajarkan tentang kehidupan baik dengan kesadaran. Kesadaran yang keluar dari dukkha dangan mendepankan ajaran buddhisme tentang maggo sebagai delapan langkah mulia di terapkan dengan baik secara fundamental dan hakiki terhadap penderitaan yang di alami masyarakat Papua.

oleh : Krismas Bagau

Sabtu, 14 Mei 2011

Seandainya Kau Masih Ada

Seandainya kau tidak pergi
Seandainya kita tidak berpisah
Aku masih bisa memanggilmu ‘Kakak’

Walaupun kau tidak berthan lama di planet ini
Walaupun kau dan aku tak saling mengenal
walaupun kau dan aku tak saling tahu
Walaupun kau belum memberikan senyum manismu padaku
Aku tahu bahwa dulu pernah kau ada

Entah kau dimana aku tak tahu keberadaanmu
Hanyalah cerita tentangmu yang bisa kudengar
Hanyalah bisa kudengar untaian kata yang bisa kudengar ditelingaku
Sulit untuk kubayangkan seperti apa dirimu
karena kita berada di planet yang berbeda
karena kita tidak bersama
aku yakin bahwa disuatu saat bila ajalku aku bisa bertemu denganmu
dan aku bisa memanggilmu ‘Kakak’

Semoga kau baik-baik disana “KAKAK”

( Buat Kak Felix B )


Kamis, 14 April 2011

Aku mencintaimu mama

Mama. . . . . .
Walau aku tak bersamamu
Walau aku tak disampingmu
Walau aku jauh di rantauan
Pada hari yang special berbahagia ini
Aku ingin capkan “terimakasih”
Mama. . . .. . .
Pada hari ini ku ingin persembahkan sebuah puisi untukmu
Mama,..
Kau bagaikan matahari
Yang selalu menerangi setiap ruang gelapku
Kau tetap tersenyum walaupun hujan mengaburkanmu
Walaupun malam menenggelamkanmu
Kau tetap menerangi hari-hariku
Karena engkau adalah matahariku
Karena engkau adalah pelita hidupku
Mama,..
Kau menjadi inspirasi bagiku
Untuk terus bangkit
Untuk terus berdiri dan
Untuk terus berjalan

Kau menjadi pompa semangatku
Dan kau adalah hidupku
Aku tak tahu mama
Apa yang akan terjadi padaku
Jika tuhan memisahkan kita
Mama,..
Aku ingin selalu bersamamu
Mendengar suaramu sepanjang waktu
Melihat senyum yang selalu terukir dari bibirmu
Aku sangat bersyukur pada allah
Karena dia telah melahirkanku dari rahimmu
Karena dia telah menganugrahiku seorang mama sepertimu
Mama,..
Satu hal yang harus kau tahu
Aku akan selalu mencintaimu

I LOVE YOU MAMA
By : Arnold)*

Minggu, 27 Maret 2011

Pesta Miras


Tet. . . Tet. . . Tet… Telepon genggam saya bunyi. Bapak saya melalui telepon genggam saya, memanggil saya dari jayapura, bapak saya menyuruhku untrue datang bersama dengan kakak saya yang bernama Mathew (nama Samaran). Kemudian saya menelpon kakak saya Mathew lalu karena kakak saya juga tempat tinggalnya agak jauh dari tempat tinggal saya. Setelah menelpon kakak saya, saya pun langsung turun ke jalan raya untuk  menunggunya. 

Sesampainya saya di jalan raya, terlihat mobil Avanza berwarna abu-abu parkir di mata jalan masuk ke tempat tinggal saya. Saya menduga bahwa mobil yang di parkir itu mungkin oleh para pejabat atau orang-orang besar yang parkir sebab di tempat itu juga ada sebuah Rumah Makan (RM Surya). 

Dalam beberapa menit saya memperhatikan dengan baik mobil itu serta orang yang berada di dalam mobil itu. Namun dugaan saya salah, karena ternyata dalam mobil itu terdengar suara musik yang di putar dari dalam mobil itu. Ada beberapa orang tertawa sambil mengiukuti irama music yang mereka pasang dalam mobil itu. 

Tidak lama kemudian ada seorang pemuda yang usianya bila diperkirakan ± 28-30 Tahun menggocengi seorang gadis lalu datang dan berhenti dimana tempat yang sedang saya berdiri. Pemuda dan gadis yang tadi membawa sebuah botol yang didalamnya berisi bensin. Ternyata mereka parkir mobil itu karena kehabisan bahan bakar. Saat pemuda itu tiba, pintu itu terbuka. Lalu kemudian seorang wanita keluar dengan masih memakai baju dinas, artinya wanita itu bekerja di kantor.

Karena pintu mobilnya terbuka, saya mengarahkan padangan saya ke dalam mobil itu. Ternyata mobil itu dikendarai oleh seorang wanita juga. Wanita yang mengendarai mobil memegang rokok ditangan kirinya sambil menghisap rokok dan memegang HP yang bisa memutar video klip maupun lagu. Kemudian wanita itu memutarkan video klip. Lalu mereka tertawa-tawa di dalam mobil itu setelah menyaksikan tayangan yang ditayangkan dalam video klip itu. 

Tidak lama kemudian datanglah seorang pria yang berbadan kekar dan masih memakai baju dinas. Anehnya, setelah pria itu tiba wanita yang tadinya duduk di depan bersama sopir, buka pintu dan keluar untuk menemui pria itu, setelah ditemuinya ia langsung memeluk dan menciumnya. Mereka tidak sadar karena otak dan pikiran mereka dikuasai oleh alcohol. Mereka saling memeluk dan berciuman, seakan-akan dunia milik mereka berdua. 

Ow…….bisa juga yeah. Papua akan seperti apa jadinya. Seharusnya orang-orang yang sudha mengerti dan orang yang masuk dalam system pemerintahan itu memberikana contoh yang baik kepada masyarakat. Namun sebaliknya mala mereka yang merusak kehidupan.
Memalukan!! Sungguh memalukan. Masih dengan pakaiana dinas berpesta miras lalu melakukan hal-hal yang dinilai sangat menyimpang seperti berciuman dan berpelukan di tempat-tempat umum. 

Arnold Belau

Kamis, 03 Maret 2011

KULIT HITAM, RAMBUT KERITING AKU PAPUA"

Saya sebagai putra Papua melihat, mengalami dan merasakan kebijakan undang-undang di negeri Papua sangat amat disayangkan kebijakannya yang diturungkan dari pemerintah pusat terhadap masyarakat Papua. Mengapa hal ini sangat disayangkan? karena pemerintah Papua sedang distir oleh undang-undang biadap atau anjing pelacak pemerintah Indonesia dalam alti pemerintah pusat yang mengatur semua kebijakan. Hal ini, dengan tujuan dan maksusud mengexproitasi sumber daya alam dan sumber daya manusia atas nama NKRI yang tidak tahu menghargai ekstensi manusia Papua. Salah satu hal yang hal negatif yang menghancurkan tanah Papua adalah kebijakan otonomi khusus bagi propinsi Papua.

Otonomi yang berlangsung di tanah Pupua adalah otonomi yang di imprementasikan untuk pejabat-pejabat Papua saja, Yang notabenenya hidup diatas penderitan rakayat kecil. dan lebih para lagi mereka menari-nari di atas penderitan Orang Papua dengan cara menghambur-hambur uang rakyat kecil dengan berpoya-poya dengan dan hidup di hotel-hotel dengan urusan yang tidak jelas.

Kulit hitam rambut keritin aku papua melihat dan menganalisa Kelemahan undang-undang yang diterapkan di tanah Papua membawa kebodohan terhadap pejabat yang bermental santai. Untuk itu, semua roda pemerintahan ini seharusnya di atur baik. kalau tidak kembalikan kemerdekan kebebasan kami untuk mengatur atau menata masa depan kami sebab kami bukan berkulit putih atau berkulit jawanesia tetapi kami orang Papua adalah kulit hitam ramput keriting yang bisa mengatur diri sendiri dan tidak perlu diatur atau distir oleh kolonialisme dan militelisme Indonesia terhadap di seluruh tanah Papua.
Kehadiran pemerintah Indonesia dengan segala perangkat kekuatan hukum, TNI dan Polri yang sedang menduduki Tanah Papua dan menjajah orang asli Papua sebagai pemilik negeri dan tanah ini sejak 1 mei 1963 sampai saat ini. Pemerintah Indonesia selama ini tampil sebagai pemilik kebenaran, pahlawan, pelindung, penyelamat dan pengayom masyarakat. Sebenarnya, pemerintah Indonesia mempunyai agenda besar dan jangka panjang seperti kepentingan ekonomi, politik, dan keamanan dan pemusnahan etnis Melanesia secara sistematis dan struktural. Semua kejahatan dan ketidakadilan ini selalu dikemas atas nama pembangunann nasional dan keamanan nasional. Untuk membenarkan kekejaman dan kejahatan pemerintah Indonesia, orang asli Papua, pemilik negeri ini, diberikan stgma spratis, anggota OPM, dan pembuat makar yang nota benenya menggagu keamanan.

Aku datang supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahaan (yohanes 10:10). Yesus tampil sebagi salah satu contoh figur yang perlu ditiru dan diandalkan dalam penyelamatan umat manusia yang tidak bersuara dari kebodohan, penindasan, penganiayaan, pemenjarahan umat Tuhan yang tidak berdosa. Maka itu, perlu adanya perdamaian yang fundamental dan hakiki. Kemudian bagi generasi penerus negeri ini, perlu melihat sandiwara Undang-undang yang diterapkan di Papua nomor 21 tahun 2001 tentang otonomi Khusus bagi propinsi Papua yang sudah mati dan sudah dikuburkan itu sebagai salah satu contoh yang baik di analisa. Ketidakjelasan dalam pelaksanaan/imprementasi. Maka itu, pemerintah yang memegan otoritas kekuasan di negeri Papua perlu di tiru pembebasan tanah dan negeri ini dari figur di atas.

Dengan demikian, untuk suatu kehidupan yang baik dibutuhkan teladan dari para penguasa atau yang senior. Tetapi yang dibutuhkan adalah suatu sistem hukum yang keras. Penguasa atau pemimpin dapat dibuat baik dengan pendidikan tetapi yang lebih penting adalah sebuah sitem hukum yang tegas. Cara mengontrol kejahatan dan egoisme adalah dengan menghukum yang jahat dan menghadiahi yang baik. Di dalam sistem ini raja atau penguasa di tempatkan lebih rendah karena pejabat yang menawasi hukum dapat juga bertindak jahat dan egois.

Oleh: Ganewabega Domogaukiba Krismas Bagau

Minggu, 27 Februari 2011

Berlari Mencari Belahan Jiwa

Tet. . . Tet. . . Tet… Telepon genggam saya bunyi. Bapak saya melalui telepon genggam saya, memanggil saya dari jayapura, bapak saya menyuruhku untrue datang bersama dengan kakak saya yang bernama Mathew (nama Samaran). Kemudian saya menelpon kakak saya Mathew lalu karena kakak saya juga tempat tinggalnya agak jauh dari tempat tinggal saya. Setelah menelpon kakak saya, saya pun langsung turun ke jalan raya untuk menunggunya.

Sesampainya saya di jalan raya, terlihat mobil Avanza berwarna abu-abu parkir di mata jalan masuk ke tempat tinggal saya. Saya menduga bahwa mobil yang di parkir itu mungkin oleh para pejabat atau orang-orang besar yang parkir sebab di tempat itu juga ada sebuah Rumah Makan (RM Surya). Dalam beberapa menit saya memperhatikan dengan baik mobil itu serta orang yang berada di dalam mobil itu. Namun dugaan saya salah, karena ternyata dalam mobil itu terdengar suara musik yang di putar dari dalam mobil itu. Ada beberapa orang tertawa sambil mengiukuti irama music yang mereka pasang dalam mobil itu.

Tidak lama kemudian ada seorang pemuda yang usianya bila diperkirakan ± 28-30 Tahun menggocengi seorang gadis lalu datang dan berhenti dimana tempat yang sedang saya berdiri. Pemuda dan gadis yang tadi membawa sebuah botol yang didalamnya berisi bensin. Ternyata mereka parkir mobil itu karena kehabisan bahan bakar. Saat pemuda itu tiba, pintu itu terbuka. Lalu kemudian seorang wanita keluar dengan masih memakai baju dinas, artinya wanita itu bekerja di kantor. Karena pintu mobilnya terbuka saya.
mengarahkan padangan saya ke dalam mobil itu. Ternyata mobil itu dikendarai oleh seorang wanita juga. Wanita yang mengendarai mobil memegang rokok ditangan kirinya sambil menghisap rokok dan memegang HP yang bisa memutar video klip maupun lagu. Kemudian wanita itu memutarkan video klip. Lalu mereka tertawa-tawa di dalam mobil itu setelah menyaksikan tayangan yang ditayangkan dalam video klip itu. Tidak lama kemudian datanglah seorang pria yang berbadan kekar dan masih memakai baju dinas. Anehnya, setelah pria itu tiba wanita yang tadinya duduk di depan bersama sopir, buka pintu dan keluar untuk menemui pria itu, setelah ditemuinya ia langsung memeluk dan menciumnya. Mereka tidak sadar karena otak dan pikiran mereka dikuasai oleh alcohol. Mereka saling memeluk dan berciuman, seakan-akan dunia milik mereka berdua.

Ow…….bisa juga yeah. Papua akan seperti apa jadinya. Seharusnya orang-orang yang sudha mengerti dan orang yang masuk dalam system pemerintahan itu memberikana contoh yang baik kepada masyarakat. Namun sebaliknya mala mereka yang merusak kehidupan.
Memalukan!! Sungguh memalukan. Masih dengan pakaiana dinas berpesta miras lalu melakukan hal-hal yang dinilai sangat menyimpang seperti berciuman dan berpelukan di tempat-tempat umum.

by : arnold Belau