Jumat, 20 Mei 2011

AJARAN BUDDHISME TENTANG DUKKHA DAN RELEVANSINYA DENGAN PENDERITAAN MASYARAKAT PAPUA.

Saya melihat dan mempelajari ajaran buddhisme tentang dukkha dan relevansinya dengan penderitaan masyarakat Papua. Ini menjadi sorotan untuk diselidiki. Alasan yang paling fundamental tergambar dan terlihat bahwa di sana terjadi penderitaan yang membawa suatu pengharapan. Pengharapan itu terjadi karena ada sesuatu yang dipandang sebagai tetap ada. Ada artinya sebuah jalan keluar dari penderitaan mencapai impian yaitu kebebasan. Kebebasan yang tercapai jika dan hanya jika sadar dari penderitan membawa habitus baru dalam kehidupan. Dalam tulisan saya ini tidak bermaksud menyajikan seluruh filsafat mengenai tema, namun sesuai dengan pemahaman Saya akan menguraikannya dari sudut pandang ajaran Buddhisme.

Buddhisme lahir dari ketidaksetujuan praktek ritual dalam weda yang pada awalnya berisi cara-cara praktis mencapai keselamatan. Kemudian ia berkembang menjadi satu sistem. Buddha mengajarkan bahwa kondisi realitas bersifat sementara dan berhubungan. Manusia menderita dalam hidup karena hasrat yang tak berkesudahan pada hal-hal sementara. Pembebasan dari penderitaan dilakukan dengan melatih pikiran dan tindakan. Dengan tindakan yang benar, hal yang baik akan datang.
Pandangan hidup Buddhisme bersifat pesimistis yaitu: hidup adalah penderitaan. Pesimisme itu mendorong disediakannya jalan untuk mengatasi penderitaan. Penderitaan itu terbagi menjadi tiga bagian, yang pertama penderitaan harian. Penderitan harian tampak dalam kesulitan. Kedua, Viparinama Duka adalah penderitan sebagai akibat ketidakstabilan dalam hidup. Perubahan dialami terus-menerus. Dunia, tidak stabil sementara tanpa identitas/diri. Yang ketiga, Samsara Duka adalah penderitan sebagai akibat dari kehidupan yang sudah ditentukan/ditakdirkan.

Buddha menawarkan hal yang paling penting adalah sikap moderat. Kemoderatan tampak dalam sikap mengayomi apa saja, dalam ajaran tentang kasederhanaan dalam menikmati sesuatu dan tiadanya perendahan diri yang ekstrim. Ada empat ajaran mulia yang ditawarkan Buddhisme yaitu: yang pertama Dukkha adalah penderitaan ada di mana-mana. Yang kedua Samudaya adalah sebab dari penderitaan adalah hasrat yang tidak pada tempatnya dan yang berakar dalam kemasabodohan. Yang ketiga adalah Nirodha adalah ada akhir dari penderitaan, yaitu Nirwana (kemunkinan pembebasan ada bagi setiap orang). Dan yang keempat Maggo adalah ada sebuah jalan keluar dari penderitaan yang dikenal sebagai delapan langkah mulia.

Berdasarkan ajaran Buddhisme tentang Dukkha terlihat pada realitas orang Papua dari tahun ke tahun mengalami penderitaan. Menurut Dumma Socrates Sofyan Yoman, penderitaan yang dialami masyarakat Papua adalah penjara ketakutan, kegelapan masa depan, diskriminasi, diintimidasi, diteror, dianiaya, dieksploitasi, budaya bisu dan takut yang disebabkan oleh kekejaman dari penjajahan Indonesia yang berwatak militeristik terhadap sumber daya alam yang buat mereka menderita. Masyarakat Papua menderita karena ingin bahwa segala sesuatu tetap ada, seperti sumber daya alam yang dieksploitasi oleh pemerintah Indonesia yang bekerja sama dengan investor asing seperti PT. Freeport Tembagapura. Investor asing mengeksploitasi sumber daya alam tanpa memperdulikan hak ulayat pemilik tanah. Kritik terhadap penderitaan yang dialami dari tahun ke tahun di atas tidak ada penyelesaian secara tuntas, menyeluruh dan manusiawi, sementara sumber daya alam dikuras dan dieksploitasi, sehingga generasi penerus Papua menuntut hak dan kebebasan yang paling tinggi yaitu kebahagian dari hasil sumber daya alam, tetapi yang ada hanyalah penderitaan.

Melihat realitas seperti di atas maka masyarakat Papua menuntut untuk keluar dari Dukkha dan meminta Maggo melalui aksi damai tetapi tidak diberi, sehingga Papua menjadi medan pertempuran yang besar. Pertempuran yang membawa masyarakat Papua menjadikan tanah sebagai peristirahatan terakhir. Masyarakat Papua yang mendiami tanah Papua hanya menjadi saksi bisu atas penderitaan dan mengingat sedikit dan menulis sedikit saja, tetapi dunia tidak akan lupa pada mereka yang wafat karena perjuangannya. Perjuangan itu tetap berlanjut dan dikenang terus. Kenangan untuk menyelesaikan pekerjaan mereka yang belum selesai yang telah mereka memulai dengan perjuangan dukkha yang dasyat, maka sekarang tugas generasi adalah menyelesaikan perjuangan mereka yang belum tuntas. Perjuangan Dukkha yang dialami masyarakat Papua di atas kekayan alam merupakan salah satu tuntutan pengharapan yang manusiawi, sebab ketidaksetujuan terhadap eksploitasi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia yang bekerja sama dengan investor asing. Penderitaan itu terus dialami dan diwariskan kepada generasi penerus sampai sekarang, maka reaksi dari generasi penerus sekarang adalah menuntut untuk meluruskan sejarah integerasi secara fundamental dan hakiki demi mencapai Nirvana.

Masyarakat Papua ingin hidup damai, tidak ada kerusuhan, tidak ada perang, tenang, tenteram hati, keadaan tidak bermusuhan, rukun sebagai dasar untuk membangun kesejatian hidup yang realitis di atas kekayan alamnya. Arthur Schopenhauer mengatakan bahwa: Realitas fundamental adalah kehendak. Karena kehendak akibatnya hidup dipenuhi perjuangan, konflik dan ketidakpuasan. Terinspirasi oleh Buddhisme ia mengatakan bahwa semua kehidupan adalah penderitaan yang hanya dapat diatasi dengan mengakhiri hasrat. Untuk mencapai Nirvana dalam ajaran Buddhisme perlu adanya upaya untuk menyuarakan pembebasan dari dukkha. Dukkha akan keluar, jika dan hanya jika penderitan dipandang sebagai Nirodha, maka perlu adanya Maggo sebagai jalan keluar dari penderitaan adalah hasrat. Hasratlah yang membawa pada kesadaran yang tinggi dari pemerintah Indonesia. Mengapa masyarakat Papua menuntut kebebasan dari Dukkha, karena mereka belum menemukan Maggo sebagai sebuah jalan keluar dari penderitaan yang dikenal sebagai delapan langkah mulia terhadap nasib masyarakat Papua kedepan.

Jika berdasarkan konsentrasi penuh pada ajaran Buddhisme tentang Maggo dan didukung terus oleh pemerintah Indonesia dalam mensejahterakan masyarakat Papua berarti tidak ada tuntutan untuk keluar dari integrasi dengan negara kesatuan republik Indonesia. Masyarakat Papua berpikir bahwa jika mencapai Maggo berarti tidak ada yang dipersoalkan terhadap integrasi masyarakat Papua dari negara kesatuan republik Indonesia. Fakta membuktikan bahwa Dukkha yang dialami masyarakat Papua membutuhkan ajaran Nirodha yaitu ada akhir dari penderitan yaitu Nirvana, maka untuk mencapai Nirvana perlu adanya kebenaran kesadaran sebagai jalan menuju Maggo. Realitas yang dialami harus dipandang sebagai awal dari perjuangan menuju kebaikkan. Kebaikan menghasilkan penyempurnaan pemisahan diri dari Dukkha, jika ada niat yang baik. Dukkha berarti pemisahan diri yang menghasilkan keseimbangan hubungan kekerabatan untuk membangun kebebasan. pembebasan artinya lepas dari penindasan terhadap masyarakat Papua menuju kualitas hidup yang tertinggi.

Semua penindasaan terhadap masyarakat Papua membutuhkan penyelesaian. Cara penyelesaiaannya membutuhkan keterbukaan diri dari pemerintah Indonesia. Kesadaran pencapaian Nirvana membutukan harmoni sebagai dasar perdamaian antara manusia dengan sesama untuk menciptakan toleransi. Toleransi dapat dimulai dengan membuka diri dan menghargai pandangan yang berbeda demi suatu kehidupan bersama dengan mengedepankan perikemanusian yang dapat dikembangkan melalui diri dalam relasi cinta, dan adil terhadap manusia sebagai sesama.

Dukkha pada masa kini tidak relevan untuk manusia dalam semua bidang kecuali dalam bidang-bidang tertentu seperti pendidikan. Yang dibutuhkan adalah bijaksana dalam segala hal. Jika bertindak bijaksana sesuai dengan akal budinya, maka kebahagian itu juga sama dengan keutamaan. Keutamaan dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia dengan cara berpikir dan bertindak secara rasional terhadap masyarakat Papua, dan mengajarkan Maggo sebagai jalan keluar dari Dukkha. Menurut Plato, manusia mengoptimalkan keutamaan adalah ketika manusia adil. Kejahatan terbesar adalah ketidakadilan (ketidakbenaran) saat manusia hidup jahat dan tidak tahu diri, dalam diri orang itu tidak ada harmoni. Ajaran Buddhisme dapat diterapkan dengan berkat ketenangan batin. Seandainya perasan batin tidak memberi ketidaktenangan tentang tindakan moral yang salah, juga bisa membawa dampak yang membuat masyarakat Papua menjadi canggung untuk mempertahankannya terhadap manipulasi kebodohan dan berjuang melawan dukkha.

Jadi, Penderitaan yang dialami masyarakat Papua adalah penjara ketakutan, kegelapan masa depan, diskriminasi, intimidasi, teror, aniaya, eksploitasi, budaya bisu dan takut yang disebabkan oleh kekejaman dari penjajahan Indonesia yang berwatak militeristik terhadap masyarakat Papua harus di hentikan. Yang diinginkan oleh masyarakat Papua adalah bebas dari penderitaan (dukkha) secara tuntas, menyeluruh dan manusiawi. Sehingga Sorotan yang disodorkan pun dapat memenuhi keinginan masyarakat Papua untuk hidup dengan bebas merdeka di dalan negara kesatuan republik Indonesia.

Merdeka merupakan salah satu keinginan insani yang amat mendasar. Pembebasan dari penderitan dilakukan dengan melatih pikiran dan tindakan berdasarkan aturan karma, sehingga masyarakat Papua ingin yang buat mereka mencapai nirvana adalah hidup damai, tidak ada kerusuhan, tidak ada perang, tenang, tenteram hati, keadaan tidak bermusuhan, rukun sebagai dasar untuk membangun kesejatian hidup yang realitis diatas kekayan alamnya. Masyarakat Papua membutuhkan adalah keterbukaan diri dari pemerintah Indonesia, demi membangun dan mengajarkan tentang kehidupan baik dengan kesadaran. Kesadaran yang keluar dari dukkha dangan mendepankan ajaran buddhisme tentang maggo sebagai delapan langkah mulia di terapkan dengan baik secara fundamental dan hakiki terhadap penderitaan yang di alami masyarakat Papua.

oleh : Krismas Bagau

Sabtu, 14 Mei 2011

Seandainya Kau Masih Ada

Seandainya kau tidak pergi
Seandainya kita tidak berpisah
Aku masih bisa memanggilmu ‘Kakak’

Walaupun kau tidak berthan lama di planet ini
Walaupun kau dan aku tak saling mengenal
walaupun kau dan aku tak saling tahu
Walaupun kau belum memberikan senyum manismu padaku
Aku tahu bahwa dulu pernah kau ada

Entah kau dimana aku tak tahu keberadaanmu
Hanyalah cerita tentangmu yang bisa kudengar
Hanyalah bisa kudengar untaian kata yang bisa kudengar ditelingaku
Sulit untuk kubayangkan seperti apa dirimu
karena kita berada di planet yang berbeda
karena kita tidak bersama
aku yakin bahwa disuatu saat bila ajalku aku bisa bertemu denganmu
dan aku bisa memanggilmu ‘Kakak’

Semoga kau baik-baik disana “KAKAK”

( Buat Kak Felix B )


Kamis, 14 April 2011

Aku mencintaimu mama

Mama. . . . . .
Walau aku tak bersamamu
Walau aku tak disampingmu
Walau aku jauh di rantauan
Pada hari yang special berbahagia ini
Aku ingin capkan “terimakasih”
Mama. . . .. . .
Pada hari ini ku ingin persembahkan sebuah puisi untukmu
Mama,..
Kau bagaikan matahari
Yang selalu menerangi setiap ruang gelapku
Kau tetap tersenyum walaupun hujan mengaburkanmu
Walaupun malam menenggelamkanmu
Kau tetap menerangi hari-hariku
Karena engkau adalah matahariku
Karena engkau adalah pelita hidupku
Mama,..
Kau menjadi inspirasi bagiku
Untuk terus bangkit
Untuk terus berdiri dan
Untuk terus berjalan

Kau menjadi pompa semangatku
Dan kau adalah hidupku
Aku tak tahu mama
Apa yang akan terjadi padaku
Jika tuhan memisahkan kita
Mama,..
Aku ingin selalu bersamamu
Mendengar suaramu sepanjang waktu
Melihat senyum yang selalu terukir dari bibirmu
Aku sangat bersyukur pada allah
Karena dia telah melahirkanku dari rahimmu
Karena dia telah menganugrahiku seorang mama sepertimu
Mama,..
Satu hal yang harus kau tahu
Aku akan selalu mencintaimu

I LOVE YOU MAMA
By : Arnold)*

Minggu, 27 Maret 2011

Pesta Miras


Tet. . . Tet. . . Tet… Telepon genggam saya bunyi. Bapak saya melalui telepon genggam saya, memanggil saya dari jayapura, bapak saya menyuruhku untrue datang bersama dengan kakak saya yang bernama Mathew (nama Samaran). Kemudian saya menelpon kakak saya Mathew lalu karena kakak saya juga tempat tinggalnya agak jauh dari tempat tinggal saya. Setelah menelpon kakak saya, saya pun langsung turun ke jalan raya untuk  menunggunya. 

Sesampainya saya di jalan raya, terlihat mobil Avanza berwarna abu-abu parkir di mata jalan masuk ke tempat tinggal saya. Saya menduga bahwa mobil yang di parkir itu mungkin oleh para pejabat atau orang-orang besar yang parkir sebab di tempat itu juga ada sebuah Rumah Makan (RM Surya). 

Dalam beberapa menit saya memperhatikan dengan baik mobil itu serta orang yang berada di dalam mobil itu. Namun dugaan saya salah, karena ternyata dalam mobil itu terdengar suara musik yang di putar dari dalam mobil itu. Ada beberapa orang tertawa sambil mengiukuti irama music yang mereka pasang dalam mobil itu. 

Tidak lama kemudian ada seorang pemuda yang usianya bila diperkirakan ± 28-30 Tahun menggocengi seorang gadis lalu datang dan berhenti dimana tempat yang sedang saya berdiri. Pemuda dan gadis yang tadi membawa sebuah botol yang didalamnya berisi bensin. Ternyata mereka parkir mobil itu karena kehabisan bahan bakar. Saat pemuda itu tiba, pintu itu terbuka. Lalu kemudian seorang wanita keluar dengan masih memakai baju dinas, artinya wanita itu bekerja di kantor.

Karena pintu mobilnya terbuka, saya mengarahkan padangan saya ke dalam mobil itu. Ternyata mobil itu dikendarai oleh seorang wanita juga. Wanita yang mengendarai mobil memegang rokok ditangan kirinya sambil menghisap rokok dan memegang HP yang bisa memutar video klip maupun lagu. Kemudian wanita itu memutarkan video klip. Lalu mereka tertawa-tawa di dalam mobil itu setelah menyaksikan tayangan yang ditayangkan dalam video klip itu. 

Tidak lama kemudian datanglah seorang pria yang berbadan kekar dan masih memakai baju dinas. Anehnya, setelah pria itu tiba wanita yang tadinya duduk di depan bersama sopir, buka pintu dan keluar untuk menemui pria itu, setelah ditemuinya ia langsung memeluk dan menciumnya. Mereka tidak sadar karena otak dan pikiran mereka dikuasai oleh alcohol. Mereka saling memeluk dan berciuman, seakan-akan dunia milik mereka berdua. 

Ow…….bisa juga yeah. Papua akan seperti apa jadinya. Seharusnya orang-orang yang sudha mengerti dan orang yang masuk dalam system pemerintahan itu memberikana contoh yang baik kepada masyarakat. Namun sebaliknya mala mereka yang merusak kehidupan.
Memalukan!! Sungguh memalukan. Masih dengan pakaiana dinas berpesta miras lalu melakukan hal-hal yang dinilai sangat menyimpang seperti berciuman dan berpelukan di tempat-tempat umum. 

Arnold Belau

Kamis, 03 Maret 2011

KULIT HITAM, RAMBUT KERITING AKU PAPUA"

Saya sebagai putra Papua melihat, mengalami dan merasakan kebijakan undang-undang di negeri Papua sangat amat disayangkan kebijakannya yang diturungkan dari pemerintah pusat terhadap masyarakat Papua. Mengapa hal ini sangat disayangkan? karena pemerintah Papua sedang distir oleh undang-undang biadap atau anjing pelacak pemerintah Indonesia dalam alti pemerintah pusat yang mengatur semua kebijakan. Hal ini, dengan tujuan dan maksusud mengexproitasi sumber daya alam dan sumber daya manusia atas nama NKRI yang tidak tahu menghargai ekstensi manusia Papua. Salah satu hal yang hal negatif yang menghancurkan tanah Papua adalah kebijakan otonomi khusus bagi propinsi Papua.

Otonomi yang berlangsung di tanah Pupua adalah otonomi yang di imprementasikan untuk pejabat-pejabat Papua saja, Yang notabenenya hidup diatas penderitan rakayat kecil. dan lebih para lagi mereka menari-nari di atas penderitan Orang Papua dengan cara menghambur-hambur uang rakyat kecil dengan berpoya-poya dengan dan hidup di hotel-hotel dengan urusan yang tidak jelas.

Kulit hitam rambut keritin aku papua melihat dan menganalisa Kelemahan undang-undang yang diterapkan di tanah Papua membawa kebodohan terhadap pejabat yang bermental santai. Untuk itu, semua roda pemerintahan ini seharusnya di atur baik. kalau tidak kembalikan kemerdekan kebebasan kami untuk mengatur atau menata masa depan kami sebab kami bukan berkulit putih atau berkulit jawanesia tetapi kami orang Papua adalah kulit hitam ramput keriting yang bisa mengatur diri sendiri dan tidak perlu diatur atau distir oleh kolonialisme dan militelisme Indonesia terhadap di seluruh tanah Papua.
Kehadiran pemerintah Indonesia dengan segala perangkat kekuatan hukum, TNI dan Polri yang sedang menduduki Tanah Papua dan menjajah orang asli Papua sebagai pemilik negeri dan tanah ini sejak 1 mei 1963 sampai saat ini. Pemerintah Indonesia selama ini tampil sebagai pemilik kebenaran, pahlawan, pelindung, penyelamat dan pengayom masyarakat. Sebenarnya, pemerintah Indonesia mempunyai agenda besar dan jangka panjang seperti kepentingan ekonomi, politik, dan keamanan dan pemusnahan etnis Melanesia secara sistematis dan struktural. Semua kejahatan dan ketidakadilan ini selalu dikemas atas nama pembangunann nasional dan keamanan nasional. Untuk membenarkan kekejaman dan kejahatan pemerintah Indonesia, orang asli Papua, pemilik negeri ini, diberikan stgma spratis, anggota OPM, dan pembuat makar yang nota benenya menggagu keamanan.

Aku datang supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahaan (yohanes 10:10). Yesus tampil sebagi salah satu contoh figur yang perlu ditiru dan diandalkan dalam penyelamatan umat manusia yang tidak bersuara dari kebodohan, penindasan, penganiayaan, pemenjarahan umat Tuhan yang tidak berdosa. Maka itu, perlu adanya perdamaian yang fundamental dan hakiki. Kemudian bagi generasi penerus negeri ini, perlu melihat sandiwara Undang-undang yang diterapkan di Papua nomor 21 tahun 2001 tentang otonomi Khusus bagi propinsi Papua yang sudah mati dan sudah dikuburkan itu sebagai salah satu contoh yang baik di analisa. Ketidakjelasan dalam pelaksanaan/imprementasi. Maka itu, pemerintah yang memegan otoritas kekuasan di negeri Papua perlu di tiru pembebasan tanah dan negeri ini dari figur di atas.

Dengan demikian, untuk suatu kehidupan yang baik dibutuhkan teladan dari para penguasa atau yang senior. Tetapi yang dibutuhkan adalah suatu sistem hukum yang keras. Penguasa atau pemimpin dapat dibuat baik dengan pendidikan tetapi yang lebih penting adalah sebuah sitem hukum yang tegas. Cara mengontrol kejahatan dan egoisme adalah dengan menghukum yang jahat dan menghadiahi yang baik. Di dalam sistem ini raja atau penguasa di tempatkan lebih rendah karena pejabat yang menawasi hukum dapat juga bertindak jahat dan egois.

Oleh: Ganewabega Domogaukiba Krismas Bagau

Minggu, 27 Februari 2011

Berlari Mencari Belahan Jiwa

Tet. . . Tet. . . Tet… Telepon genggam saya bunyi. Bapak saya melalui telepon genggam saya, memanggil saya dari jayapura, bapak saya menyuruhku untrue datang bersama dengan kakak saya yang bernama Mathew (nama Samaran). Kemudian saya menelpon kakak saya Mathew lalu karena kakak saya juga tempat tinggalnya agak jauh dari tempat tinggal saya. Setelah menelpon kakak saya, saya pun langsung turun ke jalan raya untuk menunggunya.

Sesampainya saya di jalan raya, terlihat mobil Avanza berwarna abu-abu parkir di mata jalan masuk ke tempat tinggal saya. Saya menduga bahwa mobil yang di parkir itu mungkin oleh para pejabat atau orang-orang besar yang parkir sebab di tempat itu juga ada sebuah Rumah Makan (RM Surya). Dalam beberapa menit saya memperhatikan dengan baik mobil itu serta orang yang berada di dalam mobil itu. Namun dugaan saya salah, karena ternyata dalam mobil itu terdengar suara musik yang di putar dari dalam mobil itu. Ada beberapa orang tertawa sambil mengiukuti irama music yang mereka pasang dalam mobil itu.

Tidak lama kemudian ada seorang pemuda yang usianya bila diperkirakan ± 28-30 Tahun menggocengi seorang gadis lalu datang dan berhenti dimana tempat yang sedang saya berdiri. Pemuda dan gadis yang tadi membawa sebuah botol yang didalamnya berisi bensin. Ternyata mereka parkir mobil itu karena kehabisan bahan bakar. Saat pemuda itu tiba, pintu itu terbuka. Lalu kemudian seorang wanita keluar dengan masih memakai baju dinas, artinya wanita itu bekerja di kantor. Karena pintu mobilnya terbuka saya.
mengarahkan padangan saya ke dalam mobil itu. Ternyata mobil itu dikendarai oleh seorang wanita juga. Wanita yang mengendarai mobil memegang rokok ditangan kirinya sambil menghisap rokok dan memegang HP yang bisa memutar video klip maupun lagu. Kemudian wanita itu memutarkan video klip. Lalu mereka tertawa-tawa di dalam mobil itu setelah menyaksikan tayangan yang ditayangkan dalam video klip itu. Tidak lama kemudian datanglah seorang pria yang berbadan kekar dan masih memakai baju dinas. Anehnya, setelah pria itu tiba wanita yang tadinya duduk di depan bersama sopir, buka pintu dan keluar untuk menemui pria itu, setelah ditemuinya ia langsung memeluk dan menciumnya. Mereka tidak sadar karena otak dan pikiran mereka dikuasai oleh alcohol. Mereka saling memeluk dan berciuman, seakan-akan dunia milik mereka berdua.

Ow…….bisa juga yeah. Papua akan seperti apa jadinya. Seharusnya orang-orang yang sudha mengerti dan orang yang masuk dalam system pemerintahan itu memberikana contoh yang baik kepada masyarakat. Namun sebaliknya mala mereka yang merusak kehidupan.
Memalukan!! Sungguh memalukan. Masih dengan pakaiana dinas berpesta miras lalu melakukan hal-hal yang dinilai sangat menyimpang seperti berciuman dan berpelukan di tempat-tempat umum.

by : arnold Belau

Bekas Goresan Lukaku Belum Sembuh

(Perkataan yang dikatakan oleh alam intan jaya, yang pernah disakiti dan diperkosa oleh PT.FI beberapa tahun silam yang beroperasi di Intan Jaya)

Goresan lukaku belum sembuh
Aku sudah kau hancurkan
Aku sudah kau rusakkan
Aku sudah kau lukai
Aku sudah kau sakiti
Aku sudah kau perkosa
Aku sudah kau siksa
Lukaku belum sembuh
Aku masih sakit
Cukup! cukup! cukuplah sudah….
Aku sudah tidak sanggup lagi
Aku sudah tak berdaya lagi. . .
Kau memang pengkianat
Kau pemeras hak hidupku
kau pembunuh generasi intan jaya
kau perusak intan jaya
cukup, cukup, dan cukuplah sudah............

By : Arnold Belau

When You say I Love You


When You Say I Love You. . . . .
Terasa legah hatiku
Terasa puas hatiku
Terasa dicintai oloehnya
Terasa ada perhatian darinya
Terasa disayangi olenya
Terasa dikasihi olehnya

When you say I love you
Aku selalu terasa berada di pelukan cintamu
Aku selalu terasa disayangi olehmu
Aku selalu terasa dirangkul oleh cinta dan kasihmu
Aku selalu terasa aman oleh cintamu

Bisakah semua cinta, kasih sayang, dan perhatian yang kau beri itu bisa bertahan sampai akhir hayatku?
Bisakah semua cinta, kasih sayang, dan perhatian yang kau beri itu bisa bertahan hingga aku pergi dari dunia ini?

Arnold Belau)*